Home

News

Esports

Lifestyle

Other

Industry

Ayah di China Gugat Tencent hingga miHoYo Rp24 Ribu, Protes Sistem Anti-Kecanduan Game Dinilai Gagal

MikeApalah - Jumat, 07 Agustus 2026 12:44:08

Meski hanya menuntut ganti rugi sebesar 10 yuan atau sekitar Rp24 ribu, gugatan yang diajukan seorang ayah di China terhadap empat perusahaan game terbesar di negara tersebut menarik perhatian publik. Bukan karena nilai tuntutannya, melainkan pesan yang ingin disampaikan.

Pria bermarga Qin menggugat Tencent, NetEase, miHoYo, dan 37 Interactive Entertainment karena menilai sistem pencegahan kecanduan game yang mereka terapkan gagal melindungi anak di bawah umur. Menurutnya, perusahaan-perusahaan tersebut belum menjalankan mekanisme pembatasan bermain secara efektif sehingga putranya dapat menghabiskan ribuan jam bermain game selama beberapa tahun.

Kecanduan Game
Kecanduan Game

Gugatan Hanya Senilai Rp24 Ribu, tetapi Membawa Isu Besar

Berdasarkan laporan South China Morning Post, Qin mengajukan gugatan ke pengadilan di Tanghe County, Provinsi Henan, dengan nilai kompensasi hanya 10 yuan atau sekitar US$1,50.

Nilai tersebut memang sangat kecil dibandingkan gugatan hukum pada umumnya. Namun Qin menegaskan bahwa uang bukanlah tujuan utama.

Ia berharap pengadilan dapat mendorong perusahaan game untuk memperketat penerapan sistem anti-kecanduan yang selama ini diwajibkan pemerintah China, khususnya bagi pemain di bawah umur.

Putranya Bermain Game hingga Ribuan Jam

Dalam gugatan tersebut, Qin mengungkapkan bahwa putranya menghabiskan waktu sangat lama bermain game online.

Ia mengaku anaknya kerap bermain hingga pukul 03.00 atau 04.00 pagi saat berada di rumah pada akhir pekan.

Data dari salah satu akun game menunjukkan bahwa sang anak telah mencatatkan 1.868 jam bermain sejak Maret 2024, atau rata-rata sekitar 2,44 jam per hari.

Menurut Qin, putranya berhasil melewati sistem pembatasan usia dengan menggunakan identitas milik kakak perempuannya yang telah dewasa saat mendaftarkan akun game.

Kasus Ini Muncul Setelah Insiden Keracunan Obat

Gugatan tersebut diajukan sekitar satu bulan setelah putra Qin, yang telah berusia 18 tahun pada 2026, mengalami insiden serius.

Pada 23 Mei 2026, remaja tersebut diketahui menelan 18 butir obat penurun demam, kemudian mengalami keracunan obat hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Setelah mendapatkan perawatan medis, kondisinya berhasil dipulihkan.

Hingga kini, putra Qin belum menjelaskan alasan mengapa ia mengonsumsi obat dalam jumlah besar tersebut.

Qin menduga kejadian tersebut berkaitan dengan kebiasaan bermain game yang berlebihan. Namun, dugaan itu belum dapat dipastikan maupun dikonfirmasi oleh pihak berwenang maupun tenaga medis.

China Sudah Memiliki Regulasi Ketat untuk Pemain di Bawah Umur

China merupakan salah satu negara dengan regulasi paling ketat terkait aktivitas bermain game anak-anak.

Sejak 2021, pemerintah China menerapkan aturan yang membatasi waktu bermain game online bagi pemain di bawah umur.

Dalam regulasi tersebut, anak-anak hanya diperbolehkan bermain game online pada hari Jumat, akhir pekan, dan hari libur nasional, dengan durasi yang sangat terbatas sesuai ketentuan yang berlaku.

Meski demikian, kasus Qin menunjukkan bahwa pembatasan tersebut masih dapat diakali apabila seorang pemain menggunakan identitas orang dewasa untuk membuat akun.

Inilah yang menjadi salah satu dasar gugatan Qin terhadap perusahaan-perusahaan game tersebut.

Sidang Masih Ditunda

Perkara ini sebenarnya dijadwalkan mulai disidangkan pada 6 Juli 2026.

Namun, proses persidangan harus ditunda setelah beberapa perusahaan tergugat mengajukan keberatan terkait kewenangan pengadilan (jurisdiction).

Hingga saat ini, belum ada jadwal sidang baru yang diumumkan.

Bukan Gugatan Pertama terhadap Industri Game

Kasus Qin bukanlah yang pertama yang menyeret perusahaan game ke meja hijau terkait dugaan kecanduan bermain.

Pada 2023, seorang ibu di negara bagian Arkansas, Amerika Serikat, menggugat sejumlah perusahaan besar seperti Activision Blizzard, Electronic Arts (EA), Epic Games, Microsoft, dan Ubisoft. Gugatan tersebut menuduh perusahaan-perusahaan tersebut merancang game dengan mekanisme yang dapat menyebabkan kecanduan pada anak-anak.

Kasus lain yang sempat menarik perhatian juga datang dari seorang pemain muda yang menggugat Nintendo karena menganggap sistem mikrotransaksi di Mario Kart Tour bersifat tidak etis setelah tanpa sengaja menggunakan kartu kredit milik ayahnya untuk melakukan pembelian dalam game.

Sorotan Baru terhadap Efektivitas Sistem Anti-Kecanduan

Gugatan Qin kembali memunculkan perdebatan mengenai efektivitas sistem verifikasi usia dan pembatasan waktu bermain yang diterapkan industri game.

Di satu sisi, perusahaan game telah menyediakan berbagai fitur pembatasan sesuai regulasi pemerintah. Namun di sisi lain, penggunaan identitas orang dewasa oleh pemain di bawah umur masih menjadi celah yang sulit diatasi sepenuhnya.

Hasil persidangan nanti berpotensi menjadi salah satu kasus penting yang dapat memengaruhi penerapan sistem perlindungan pemain muda di industri game China, terutama terkait tanggung jawab platform dalam memastikan regulasi anti-kecanduan benar-benar berjalan efektif.

Baca Artikel Asli