Illya “Yatoro” Mulyarchuk dan Magomed “Collapse” Khalilov resmi mencatatkan sejarah baru di Dota 2. Setelah Team Spirit mengalahkan TEAM VISION pada Grand Final The International 2026, keduanya menjadi pemain pertama dalam sejarah yang berhasil memenangkan tiga Aegis of Champions.
Pencapaian tersebut terasa semakin istimewa karena perjalanan karier Yatoro dan Collapse menuju tiga gelar TI sama sekali tidak berlangsung mulus. Keduanya pernah berstatus pemain muda tanpa nama besar, mengalami kegagalan di panggung terbesar, hingga sempat meninggalkan kompetisi profesional sebelum akhirnya kembali dan mencapai pencapaian yang belum pernah diraih pemain lain.

Dari Yellow Submarine hingga Tiga Aegis
Kisah Yatoro dan Collapse memiliki titik awal yang sama.
Yatoro merupakan pemain asal Ukraina yang belajar Dota 2 secara mandiri. Pada 2019, ia berhasil mencapai 9.000 MMR tanpa melalui jalur pembinaan esports tradisional.
Sementara itu, Collapse mulai mengenal Dota 2 melalui warnet di Dagestan sejak berusia 13 tahun.
Keduanya kemudian berkembang bersama Yellow Submarine, sebuah roster yang saat itu masih berisi pemain-pemain yang belum terlalu dikenal di panggung internasional.
Pada akhir 2020, Team Spirit merekrut roster tersebut.
Tidak sampai satu tahun kemudian, keputusan itu berbuah trofi terbesar.
TI10 Jadi Awal Dinasti Team Spirit
Yatoro dan Collapse membantu Team Spirit memenangkan The International 2021 (TI10).
Di turnamen tersebut, Yatoro menarik perhatian melalui fleksibilitas hero pool-nya. Ia menggunakan 14 hero berbeda sepanjang turnamen, termasuk penampilan impresif menggunakan Anti-Mage di Grand Final melawan PSG.LGD.
Sementara itu, Magnus milik Collapse menjadi salah satu penampilan individu paling ikonik di TI10.
Kombinasi keduanya membawa Team Spirit meraih Aegis pertama dalam sejarah organisasi.
Dua tahun kemudian, mereka kembali ke puncak.
Team Spirit memenangkan The International 2023, memberikan Yatoro dan Collapse gelar TI kedua.
Pada titik tersebut, keduanya sudah menjadi bagian dari salah satu roster paling sukses dalam sejarah Dota 2.
Namun, perjalanan menuju Aegis ketiga justru menjadi jauh lebih berliku.
Sempat Rehat dan Tinggalkan Kompetitif
Setelah performa Team Spirit yang mengecewakan di The International 2024, ketika mereka hanya finis di posisi 9-12, Yatoro dan Collapse kemudian mengambil masa tidak aktif.
Team Spirit mengisi kekosongan tersebut dengan sejumlah pemain pengganti, termasuk talenta muda Alan “Satanic” Gallyamov.
Situasi tersebut sempat membuat masa depan dua juara TI tersebut menjadi tanda tanya.
Namun, pada Januari 2025, Yatoro dan Collapse kembali ke roster Team Spirit.
Menariknya, manajer Team Spirit Dmitry “Korb3n” Belov menyebut comeback Yatoro sebelumnya bahkan tidak direncanakan.
Kembalinya dua pemain tersebut kemudian langsung memberikan hasil positif. Team Spirit memenangkan DreamLeague Season 25, yang menjadi trofi pertama mereka setelah reuni.
Mereka kemudian melanjutkan momentum dengan memenangkan Esports World Cup Dota 2 2025.
Redemption Arc Terhenti di TI 2025
Namun, cerita comeback mereka belum sempurna.
Team Spirit memasuki The International 2025 sebagai salah satu favorit, tetapi justru gagal mencapai playoff.
Kegagalan tersebut membuat perjalanan menuju Aegis ketiga terasa semakin tidak pasti.
Setelah dua gelar, masa tidak aktif, comeback, dua trofi tambahan, dan kegagalan di TI 2025, masih belum ada jaminan bahwa Yatoro dan Collapse dapat kembali mencapai puncak The International.
Justru karena itu, kemenangan mereka di TI 2026 memiliki makna yang berbeda.
Collapse Tak Memikirkan Aegis Ketiga
Menariknya, sebelum mencapai Grand Final, Collapse justru tidak terlalu memikirkan kemungkinan memenangkan gelar ketiga.
Setelah Team Spirit mengalahkan Team Liquid di babak playoff, Collapse sempat mengatakan:
“Saya tidak memikirkan Aegis ketiga. Saya hanya ingin bertemu PARIVISION lagi.”
Pernyataan tersebut terdengar sederhana pada saat itu. Namun setelah Team Spirit akhirnya mengalahkan TEAM VISION di Grand Final, kalimat tersebut terasa jauh berbeda.
Collapse kini benar-benar memiliki Aegis ketiga di tangannya.
Yatoro dan Collapse Jadi yang Pertama
Kemenangan Team Spirit di TI 2026 membuat Yatoro dan Collapse menjadi pemain pertama yang mengoleksi tiga Aegis of Champions.
Keduanya memenangkan:
- TI10 — 2021
- TI12 — 2023
- TI15 — 2026
Catatan tersebut membuat mereka melewati semua pemain yang sebelumnya hanya mampu meraih maksimal dua gelar TI.
Yang semakin menarik, usia keduanya masih relatif muda ketika mencatatkan pencapaian tersebut. Yatoro kini berusia 23 tahun, sedangkan Collapse berusia 24 tahun.
Artinya, keduanya masih memiliki peluang untuk memperpanjang rekor tersebut pada tahun-tahun mendatang.