Netflix ternyata belum berniat meninggalkan bisnis gaming. Setelah sempat mengejar ambisi membuat game AAA sendiri, raksasa streaming tersebut kini justru melihat masa depan yang berbeda: cloud gaming di televisi, dengan ponsel pengguna berfungsi sebagai kontroler.
Hal tersebut disampaikan Ted Sarandos, co-CEO Netflix, ketika berbicara dalam acara Screentime milik Bloomberg. Saat ditanya apakah Netflix masih akan menyediakan game dalam lima tahun mendatang, Sarandos menjawab yakin bahwa perusahaan akan tetap berada di industri gaming.

Menurutnya, langkah Netflix masuk ke mobile gaming selama beberapa tahun terakhir bukanlah tujuan akhir. Pengalaman tersebut justru menjadi jalan menuju konsep yang kini lebih menarik bagi perusahaan, yakni permainan berbasis cloud yang dapat langsung dimainkan melalui layar televisi.
Saya rasa begitu. Mobile gaming merupakan pintu masuk menuju cloud gaming, dan kami jauh lebih tertarik pada apa yang bisa dilakukan dengan cloud gaming.
Pandangan tersebut menjadi cukup menarik mengingat Netflix sebelumnya sempat terlihat mengendurkan ambisi pengembangan game internalnya.
Baca juga:
Sebelum GTA 6 Pamer Gameplay di Netflix, Bocoran Cyberleek Sudah Ungkap Sejumlah Detail
Netflix Masih Akan Bermain di Industri Game Lima Tahun ke Depan
Jawaban Sarandos secara langsung membantah spekulasi bahwa Netflix akan meninggalkan gaming.
Netflix telah membangun katalog game yang dapat dimainkan anggota tanpa biaya tambahan, iklan, maupun in-app purchase. Pada September 2026, Netflix menyebut telah memiliki lebih dari 120 game mobile dalam katalognya.
Beberapa judul yang tersedia mencakup Red Dead Redemption, Sonic Mania Plus, dan RollerCoaster Tycoon Touch. Model tersebut memungkinkan game menjadi bagian dari ekosistem langganan Netflix, bukan produk yang harus dibeli secara terpisah.
Namun, arah baru Netflix menunjukkan bahwa perusahaan tidak ingin sekadar menjadi toko game mobile.
Fokus yang lebih menarik bagi Sarandos adalah bagaimana Netflix dapat memanfaatkan perangkat yang sudah ada di rumah pengguna, terutama televisi dan smartphone.
Mobile Gaming Hanya Jadi Jalan Menuju Cloud Gaming
Netflix mulai bereksperimen dengan game di televisi pada 2025. Sistem tersebut memungkinkan pengguna menjalankan game di TV dan menggunakan ponsel atau tablet sebagai kontroler melalui pemindaian kode QR.
Konsep ini terus dikembangkan sepanjang 2026.
Netflix bahkan telah menghadirkan berbagai party game yang dirancang untuk dimainkan bersama teman dan keluarga di layar besar. Pemain cukup menggunakan ponsel sebagai kontroler tanpa membutuhkan konsol khusus.
Model tersebut sangat cocok dengan visi Sarandos mengenai cloud gaming.
Alih-alih mengharuskan konsumen membeli PlayStation, Xbox, atau perangkat khusus lainnya, Netflix ingin memanfaatkan TV sebagai layar gaming dan smartphone sebagai alat kontrol.
Dengan demikian, hambatan untuk mencoba sebuah game menjadi jauh lebih rendah.
“Post-Console World” Jadi Visi Netflix
Sarandos juga menyebut peluang cloud gaming dalam konteks “post-console world”.
Istilah tersebut tidak berarti Netflix meyakini PlayStation, Xbox, atau Nintendo Switch akan segera menghilang. Sarandos lebih menggambarkan sebuah kemungkinan ketika bermain game tidak lagi selalu membutuhkan perangkat keras khusus di ruang keluarga.
Dalam skenario tersebut, televisi tetap menjadi layar utama, sementara komputasi game dilakukan melalui cloud.
Netflix melihat posisi ini cukup strategis karena perusahaan memang sudah menjadi salah satu layanan hiburan terbesar yang hadir di televisi rumah.
Dalam semacam dunia pascakonsol, akan ada berbagai macam peluang untuk bermain game di televisi. Dan kami ingin menjadi salah satu investor awal di bidang tersebut.
Bagi Netflix, pendekatan tersebut juga terasa lebih dekat dengan bisnis utamanya dibandingkan membangun perangkat keras atau mengejar persaingan tradisional dengan penerbit game besar.
Netflix Sudah Menjalankan Konsep Gaming di TV
Visi cloud gaming Netflix bukan sekadar wacana.
Layanan tersebut saat ini sudah menyediakan sejumlah game yang dapat dimainkan langsung melalui TV di wilayah yang mendukung fitur tersebut. Pengguna memilih game dari baris Games di aplikasi Netflix, kemudian menghubungkan ponsel atau tablet sebagai kontroler.
Netflix juga telah memperluas konsep ini ke permainan yang lebih sosial.
Pada Juli 2026, Netflix memperkenalkan deretan party games di TV, termasuk LEGO Party!, Boggle Party, Pictionary: Game Night, Tetris Time Warp, dan Overcooked!. Pemain dapat menggunakan ponsel sebagai kontroler dan bermain bersama di satu layar.
Bahkan FIFA World Cup: Launch Edition juga telah hadir dengan konsep serupa, yakni TV sebagai layar permainan dan smartphone sebagai kontroler. Game tersebut termasuk dalam paket langganan Netflix.
Netflix Tidak Lagi Mengejar Game AAA dengan Cara Lama
Arah cloud gaming tersebut menjadi semakin jelas ketika melihat perubahan ambisi Netflix dalam pengembangan game.
Sebelumnya, perusahaan sempat membangun studio untuk mengembangkan game dengan skala lebih besar. Namun, strategi tersebut kemudian menyusut setelah Netflix menutup studio AAA dan mengurangi sejumlah aktivitas pengembangan internal.
Perubahan ini membuat banyak pihak mempertanyakan apakah Netflix masih serius dengan gaming.
Komentar terbaru Sarandos memberikan jawaban yang cukup jelas: Netflix masih serius, tetapi tidak harus melalui cara tradisional seperti membangun penerbit game AAA dari nol.
Pendekatan tersebut membuat gaming lebih berfungsi sebagai perluasan ekosistem Netflix daripada bisnis terpisah yang harus bersaing langsung dengan Sony, Microsoft, Nintendo, atau penerbit besar lainnya.
Game Bisa Menjadi Perpanjangan IP Netflix
Menurut Sarandos, salah satu alasan utama Netflix tertarik pada gaming adalah IP extension dan nilai merek.
Game dapat memperpanjang pengalaman sebuah waralaba Netflix ke bentuk interaktif. Penonton yang biasanya hanya menonton sebuah serial atau film kemudian mendapatkan opsi untuk berinteraksi dengan dunia yang sama melalui game.
Konsep ini sebenarnya sudah terlihat dari katalog Netflix yang banyak mengandalkan game berdasarkan franchise populer.
Bagi perusahaan, pendekatan tersebut memberikan satu alasan tambahan bagi pelanggan untuk menghabiskan waktu di platform.
Saya menyukainya untuk perluasan IP. Saya juga melihat nilai mereknya, karena bagi orang yang ingin menghabiskan waktu di layar tersebut untuk bermain game alih-alih menonton, kami punya pilihan untuk mereka.
Dengan kata lain, Netflix tidak harus membuat game kompetitif berskala besar untuk mendapatkan manfaat dari gaming.
Game yang sederhana, sosial, atau terhubung dengan IP populer pun bisa memiliki fungsi strategis.
Akankah Netflix Membeli Perusahaan Game Besar?
Dalam wawancara yang sama, Sarandos juga ditanya apakah Netflix akan kembali mengeluarkan dana besar untuk membeli perusahaan game, termasuk nama seperti Take-Two atau bagian dari Xbox.
Jawabannya tidak menutup kemungkinan akuisisi di masa depan, tetapi Netflix tidak memiliki rencana spesifik saat ini untuk membeli studio game besar. Perusahaan lebih memilih pertumbuhan organik dibandingkan mengandalkan akuisisi sebagai strategi utama.
Pendekatan tersebut sejalan dengan pernyataan Sarandos bahwa Netflix secara tradisional lebih suka membangun bisnis dari dalam.
Meski demikian, pengecualian pernah terjadi, seperti upaya Netflix untuk mengambil alih Warner Bros. Discovery. Sarandos mengatakan perusahaan tertarik pada aset WBD karena struktur bisnis tersebut dinilai sangat sesuai dengan kebutuhan Netflix.
Untuk gaming, prinsip yang sama akan berlaku.
Netflix masih terbuka terhadap peluang akuisisi apabila sebuah perusahaan atau studio bisa memberikan nilai yang melengkapi bisnis utamanya.
Take-Two dan Xbox Bukan Target yang Sedang Dikejar
Pernyataan tersebut juga penting untuk meredam spekulasi mengenai akuisisi perusahaan game raksasa.
Tidak ada indikasi bahwa Netflix sedang mempersiapkan pembelian Take-Two Interactive, perusahaan di balik Rockstar Games dan Grand Theft Auto, maupun Xbox.
Dalam kasus Xbox, pimpinan Microsoft Gaming terbaru juga secara terbuka menyatakan bahwa Xbox tidak untuk dijual.
Sementara itu, Take-Two masih menjalankan bisnisnya sendiri dan terus mempertahankan portofolio franchise besar, termasuk Grand Theft Auto.
Jadi, meski Sarandos tidak sepenuhnya menutup kemungkinan akuisisi, strategi Netflix saat ini lebih condong pada membangun dan memperluas ekosistem gaming secara organik.
Cloud Gaming Belum Menjadi Standar Utama
Visi Netflix tentu bukan tanpa tantangan.
Cloud gaming sudah lama diprediksi akan mengubah industri, tetapi adopsinya belum sepenuhnya menggantikan konsol dan PC. Kualitas pengalaman juga sangat bergantung pada koneksi internet, latensi, kapasitas server, serta ketersediaan perangkat dan layanan di masing-masing negara.
Netflix sendiri saat ini masih menyebut pengalaman gaming di TV dan komputer sebagai beta dan belum tersedia di semua negara maupun perangkat.
Artinya, perjalanan Netflix menuju cloud gaming masih berada pada tahap pengembangan.
Meski begitu, Netflix memiliki satu keuntungan yang tidak dimiliki banyak perusahaan cloud gaming: basis pengguna yang sudah terbiasa membuka aplikasi Netflix di televisi.
Perusahaan tidak perlu terlebih dahulu meyakinkan konsumen untuk membeli perangkat baru. Infrastruktur pengguna yang sudah tersedia justru dapat menjadi pintu masuknya.
Masa Depan Netflix Gaming Mungkin Tidak Seperti yang Dibayangkan
Pernyataan Ted Sarandos memberikan gambaran baru mengenai masa depan Netflix di industri game.
Netflix tampaknya tidak lagi mengejar mimpi menjadi penerbit game AAA tradisional. Sebaliknya, perusahaan ingin membawa gaming lebih dekat dengan DNA bisnisnya: layar besar, streaming, IP, dan kemudahan akses.
Mobile gaming menjadi tahap awal. TV gaming menjadi langkah berikutnya. Cloud gaming kemudian menjadi tujuan yang lebih besar.
Bagi konsumen, model tersebut menarik karena memungkinkan game hadir di perangkat yang sudah mereka miliki. Untuk Netflix, gaming menjadi cara lain untuk mempertahankan perhatian pengguna di layar televisi tanpa harus selalu menawarkan film atau serial baru.
Apakah model tersebut nantinya cukup kuat untuk mengubah cara orang bermain game masih harus dibuktikan.
Namun, satu hal sudah jelas: Netflix belum menyerah pada gaming. Mereka hanya mengubah cara bermainnya.