Home

News

Esports

Lifestyle

Other

Free Fire

Profil ONIC di Grand Finals FFWS SEA 2026 Fall: Mantan Juara yang Bangkit dengan POOM dan Adam

MikeApalah - Minggu, 20 September 2026 05:51:20

Dari empat wakil Indonesia yang akan tampil di Grand Finals FFWS SEA 2026 Fall, ONIC menjadi satu-satunya tim yang pernah mengangkat trofi FFWS SEA. Gelar tersebut mereka raih pada FFWS SEA 2025 Spring di Hanoi, sekaligus menjadi gelar internasional pertama ONIC di skena Free Fire.

Namun, perjalanan menuju Grand Finals di Surabaya musim ini tidak berjalan mulus. ONIC datang dengan perubahan besar melalui perekrutan pemain Thailand, Rattapoom “POOM” Sunthalunai, sebelum kembali mengubah komposisi tim di tengah Knockout Stage dengan mengaktifkan Adam dan memberikan ban kapten kepada POOM.

ONIC
ONIC

Serangkaian perubahan tersebut perlahan mengubah permainan Landak Kuning. Setelah hanya finis di posisi ke-11 pada Phase 1 dengan 275 poin, ONIC justru tampil konsisten di Phase 2 dan akhirnya mengunci tiket Grand Finals melalui penampilan dominan pada matchday terakhir.

Kini, ONIC akan kembali ke panggung puncak regional pada 19–20 September 2026 di Tunjungan Plaza Convention Hall, Surabaya.

Roster ONIC di Grand Finals

ONIC mengumumkan roster FFWS SEA 2026 Fall pada 7 Agustus 2026. Perhatian langsung tertuju kepada kehadiran POOM, pemain Thailand yang sebelumnya dikenal dengan nama Onemore dan pernah memperkuat Team Falcons.

Kehadiran POOM juga mencatatkan sebuah langkah baru bagi ONIC karena ia menjadi pemain Thailand pertama yang masuk ke roster kompetitif tim Free Fire Indonesia.

Komposisi ONIC kemudian mengalami perubahan ketika turnamen berjalan. Adam yang sempat tidak aktif kembali mengisi posisi depan, sementara ban kapten berpindah dari Geday kepada POOM.

Roster utama ONIC

PemainNama lengkap
POOMRattapoom Sunthalunai
GedayIrgi Ramdani
AdamAdam Ramdani
CrimeMKSMuhammad Raihan
PutraxxRehan Saputra

Pelatih: Ahmad Fadly Masturoh (AFM)
Analis: Parandika

Perubahan terhadap status Adam dan pemain lain di dalam roster sebelumnya sempat memunculkan berbagai spekulasi. Namun, untuk perubahan yang tidak diumumkan secara resmi, status maupun penyebabnya sebaiknya tidak disimpulkan lebih jauh. Yang jelas, Adam kembali tampil ketika ONIC memasuki Phase 2.

ONIC Pernah Menjadi Juara FFWS SEA

Ada satu pencapaian yang membuat ONIC memiliki pengalaman berbeda dibandingkan tiga wakil Indonesia lainnya di Grand Finals Surabaya.

Pada 14 Juni 2025, ONIC memenangkan FFWS SEA 2025 Spring di Vietnam National Convention Center, Hanoi. Mereka memastikan gelar setelah mengamankan Booyah pada game kesembilan ketika sudah berada dalam status Champion Rush Eligible.

Menariknya, ONIC tidak perlu mendominasi seluruh pertandingan untuk menjadi juara. Setelah delapan game tanpa Booyah, mereka justru mampu tampil pada momen paling menentukan dan memanfaatkan peluang ketika format Champion Rush memasuki fase akhirnya.

Pengalaman tersebut menjadi modal berharga menjelang Grand Finals 2026, terutama karena kompetisi kembali menggunakan mekanisme yang menuntut tim untuk menjaga perolehan poin sekaligus menentukan kapan harus mengambil risiko untuk mengejar Booyah.

Koleksi Prestasi ONIC

Selain gelar FFWS SEA 2025 Spring, ONIC juga memiliki sejumlah pencapaian lain di level nasional dan regional.

Mereka meraih medali perak SEA Games 2025 untuk nomor esports Free Fire, kemudian menambah koleksi trofi lewat Free Fire Battle Rush Series (FFBRS) 2026. Dalam ajang tersebut, ONIC mengunci gelar melalui Booyah pada ronde keenam setelah terlebih dahulu mencapai status Champion Rush.

ONIC ketika menjadi juara FFWS SEA 2025 Spring
ONIC ketika menjadi juara FFWS SEA 2025 Spring

Di level domestik, Landak Kuning juga pernah menjuarai sejumlah kompetisi nasional seperti FFWS Indonesia 2024 Spring, Dunia Games League 2022, dan FFIM Spring 2020.

Namun, perjalanan mereka di FFWS SEA setelah gelar Hanoi tidak selalu mulus. ONIC finis di posisi ke-10 pada FFWS SEA 2025 Fall dan bahkan hanya berada di peringkat ke-16 pada FFWS SEA 2026 Spring.

Artinya, kehadiran ONIC di Grand Finals Surabaya bukan sekadar usaha mempertahankan status sebagai mantan juara. Mereka juga tengah membangun kembali posisi setelah melewati periode yang cukup sulit.

Phase 1 Belum Menunjukkan ONIC yang Sebenarnya

Masuk ke FFWS SEA 2026 Fall, ONIC belum langsung tampil sebagai kandidat kuat.

Setelah 24 pertandingan Phase 1, mereka berada di peringkat ke-11 dengan 275 poin. Posisi tersebut memang masih cukup untuk membuat ONIC masuk ke kelompok yang mendapatkan kesempatan bertarung pada Phase 2, tetapi belum memberikan gambaran bahwa mereka akan menguasai matchday terakhir.

Pada fase tersebut, kehadiran POOM belum langsung membuat permainan ONIC stabil. Pemain Thailand itu memang memberikan dimensi baru melalui kemampuan sniper dan output damage yang tinggi, tetapi ONIC tetap membutuhkan waktu untuk menemukan komposisi yang lebih solid.

Perubahan besar baru terlihat ketika memasuki Phase 2.

Tiga Hari yang Mengubah Perjalanan ONIC

Performa ONIC di Phase 2 menunjukkan grafik yang terus meningkat.

Pada Week 3 Day 1, mereka mengumpulkan 84 poin. Sehari kemudian, angka tersebut meningkat menjadi 87 poin. Puncaknya terjadi pada Day 3 ketika ONIC mencatatkan 116 poin, terdiri dari satu Booyah, 70 eliminasi, dan 46 Placement Points.

Yang menarik, ONIC tidak hanya berhasil mengamankan eliminasi. Mereka juga menunjukkan kemampuan bertahan hidup yang semakin baik.

Pada Day 2, ONIC bahkan mencatatkan 48 Placement Points, angka yang menjadi salah satu indikator bahwa permainan mereka semakin stabil dalam mempertahankan posisi hingga fase akhir pertandingan.

Tiga matchday tersebut menghasilkan total 287 poin, dengan perolehan yang meningkat secara berurutan dari 84, 87, hingga 116 poin.

Konsistensi tersebut akhirnya membawa ONIC mengamankan tiket Grand Finals setelah menjadi pemuncak klasemen pada matchday terakhir Phase 2.

POOM Bukan Sekadar Transfer Besar

Sejak awal, transfer POOM menjadi salah satu cerita terbesar ONIC di musim ini.

Namun, performanya menunjukkan bahwa perekrutan tersebut bukan sekadar perubahan nama di roster. Dalam 24 pertandingan Phase 1, POOM mencatatkan 49 eliminasi, 48.232 damage, 77 knockdown, dan satu Booyah. Rata-rata damage-nya mencapai 2.009,67 per pertandingan, sedangkan knockdown berada di angka 3,21 per match.

Angka tersebut menempatkannya di jajaran sniper dengan statistik menonjol sepanjang fase tersebut.

Lebih penting lagi, output tersebut memberi ONIC sumber tekanan tambahan dari jarak jauh. POOM tidak hanya menunggu momentum untuk mendapatkan eliminasi, tetapi juga dapat memberikan tekanan yang memengaruhi pergerakan lawan.

Perannya semakin besar setelah dipercaya sebagai kapten pada Phase 2.

Keputusan tersebut menjadi bagian dari transformasi ONIC yang menarik untuk diperhatikan: pemain impor yang awalnya datang sebagai tambahan kekuatan justru kemudian dipercaya mengambil tanggung jawab lebih besar dalam pengambilan keputusan tim.

Kembalinya Adam Menambah Dimensi di Posisi Depan

ONIC
ONIC Adam

Jika POOM menjadi simbol perubahan dari luar, maka Adam menjadi bagian penting dari perubahan dari dalam.

Pemain senior tersebut kembali aktif untuk membantu ONIC di posisi depan pada fase penting turnamen. Menurut Coach AFM, keputusan tersebut dilakukan karena ONIC membutuhkan tambahan kekuatan di lini depan dan dirinya kembali menghubungi Adam untuk menyamakan visi serta target tim.

Menariknya, AFM tidak menjadikan Adam sebagai satu-satunya pusat kebangkitan ONIC. Sang pelatih justru menekankan pentingnya kontribusi seluruh pemain dan menghindari ketergantungan pada satu sosok.

Sikap tersebut masuk akal melihat bagaimana permainan ONIC di Phase 2 berkembang. Peningkatan mereka bukan hanya terlihat dari satu statistik pemain, tetapi juga dari kemampuan tim mengumpulkan Placement Points dan menjaga konsistensi di berbagai pertandingan.

Identitas Permainan ONIC Mulai Terlihat Lagi

ONIC kini memiliki kombinasi yang berbeda dibandingkan awal musim.

POOM memberikan opsi tekanan melalui sniper dari jarak jauh. Adam membantu struktur permainan dari lini depan. Sementara Geday, CrimeMKS, dan Putraxx tetap menjadi bagian dari fondasi roster.

Kombinasi tersebut membuat ONIC memiliki beberapa cara untuk memainkan pertandingan. Mereka dapat memberikan tekanan melalui eliminasi, tetapi juga mampu mengutamakan survival dan placement ketika situasi tidak memungkinkan untuk bermain terlalu agresif.

Perubahan ini tercermin dari performa Week 3. ONIC tidak sekadar mendapatkan Booyah, tetapi juga mampu mengumpulkan poin secara konsisten di tiga matchday berturut-turut.

Bagi format kompetitif seperti FFWS SEA, kemampuan menjaga poin dari banyak pertandingan dapat menjadi sangat penting karena satu kesalahan besar tidak selalu harus diikuti dengan pertandingan yang terlalu berisiko.

Pengalaman Champion Rush Menjadi Modal di Surabaya

ONIC memiliki satu keunggulan pengalaman yang tidak dimiliki ketiga wakil Indonesia lainnya: mereka sudah pernah memenangkan FFWS SEA dengan format Champion Rush.

Pada 2025, ONIC menjadi juara setelah mengamankan Booyah ketika sudah berada dalam status Champion Rush Eligible.

Pengalaman tersebut memberikan referensi langsung mengenai bagaimana harus bermain ketika turnamen memasuki fase paling menentukan.

Namun, pengalaman masa lalu tidak otomatis menjamin hasil yang sama. Grand Finals 2026 tetap akan menjadi tantangan baru dengan roster dan kondisi kompetisi yang berbeda.

ONIC juga harus menjawab pertanyaan mengenai apakah momentum dari Phase 2 dapat mereka pertahankan setelah jeda menuju Grand Finals.

Target ONIC di Grand Finals FFWS SEA 2026 Fall

Grand Finals FFWS SEA 2026 Fall akan berlangsung pada 19–20 September 2026 di Surabaya, dengan pertandingan dimulai pukul 14.00 WIB.

Bagi ONIC, panggung ini merupakan kesempatan untuk kembali membuktikan kapasitas mereka setelah gagal menembus Grand Finals pada FFWS SEA 2026 Spring.

Mereka datang dengan status sebagai mantan juara, roster yang mengalami perubahan besar, serta momentum positif dari Phase 2.

Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar apakah ONIC mampu kembali ke Grand Finals. Mereka sudah memastikan tempat tersebut.

Tantangan sebenarnya adalah bagaimana POOM, Adam, Geday, CrimeMKS, dan Putraxx mampu menerjemahkan kebangkitan di fase Knockout menjadi performa yang konsisten selama dua hari pertandingan di Surabaya.

Setelah perjalanan yang naik-turun sejak awal musim, Landak Kuning akhirnya kembali berada di panggung yang pernah mereka taklukkan. Kini, sejarah tersebut menjadi bagian dari modal—sementara hasil di Surabaya akan menentukan bab berikutnya.

Baca Artikel Asli