Grand Finals FFWS SEA 2026 Fall bukan hanya mempertemukan para pemain terbaik Asia Tenggara. Di balik empat wakil Indonesia yang akan bertanding di Surabaya, ada empat pelatih dengan latar belakang, pengalaman, dan pendekatan yang berbeda: Christian “Chrisjo” Jonathan Pascoal (Bigetron by Vitality), Ahmad Fadly “AFM” Masturoh (ONIC), Adi “Ady” Gustiawan (RRQ Kazu), serta Tri Julio Edwardo (MBR Omega).
Keempatnya membawa tim ke panggung puncak melalui jalan yang tidak sama. Chrisjo datang dengan rekam jejak juara domestik dan regional, AFM membawa pengalaman sebagai pelatih juara FFWS SEA, Ady memiliki pengalaman menangani RRQ di sejumlah panggung internasional terbesar, sementara Tri membawa proyek MBR Omega dari level nasional ke FFWS SEA dalam satu musim.
Grand Finals akan berlangsung di Surabaya pada 19–20 September 2026, dengan Point Rush pada hari pertama dan Grand Finals menggunakan format Champion Rush pada hari kedua. Empat tim Indonesia yang lolos adalah Bigetron by Vitality, ONIC, RRQ Kazu, dan MBR Omega.
Chrisjo: Terbiasa Membangun Tim dari Titik Terendah

Nama Christian “Chrisjo” Jonathan Pascoal sudah cukup lama berada dalam ekosistem kompetitif Free Fire. Data karier yang tersedia mencatat dirinya aktif sebagai coach sejak 2021, pernah menangani ECHO, dan kemudian melanjutkan kiprahnya bersama Bigetron di tahun 2023.
Salah satu pencapaian penting Chrisjo bersama Bigetron datang pada FFWS ID 2024 Fall. Saat itu Bigetron Delta menjadi juara dan mengamankan tiket menuju FFWS SEA. Chrisjo menyebut motivasi dan kerja sama sebagai kunci kebangkitan setelah kegagalan pada musim sebelumnya.
Rekam jejaknya tidak berhenti di level domestik. Bersama Bigetron, Chrisjo juga membawa tim tersebut finis ketiga di FFWS SEA 2025 Spring dan kemudian menjadi bagian dari skuad yang memenangkan Free Fire MAX Asia Invitational 2026 Summer.
Yang menarik dari Chrisjo adalah cara dia melihat komposisi tim sebagai sesuatu yang bisa terus diuji. Pendekatan itu terlihat kembali pada musim 2026 ketika Bigetron melakukan perubahan roster di tengah kompetisi.
Kehadiran Fellow dan Tiuszz memberi dimensi baru pada permainan BTR dan langsung diikuti lonjakan performa hingga mereka menjadi tim Indonesia pertama yang mengunci tiket Grand Finals.
Menariknya, Chrisjo juga dikenal tidak hanya mengandalkan hasil akhir. Ia menekankan perlunya memaksimalkan seluruh opsi lineup yang tersedia ketika memberikan masukan kepada tim-tim yang masih berjuang lolos ke Grand Finals.
Cerita Chrisjo di Surabaya: mengubah pengalaman panjang dan fleksibilitas roster menjadi kesempatan membawa BTR akhirnya meraih gelar FFWS SEA.
AFM: Dari Juara FFWS SEA ke Pelatih yang Gemar Bereksperimen
Berbeda dengan tiga coach lainnya, Ahmad Fadly “AFM” Masturoh datang ke Grand Finals dengan status sebagai bagian dari tim yang pernah memenangkan FFWS SEA 2025 Spring.
AFM sendiri sudah lama berada dalam scene kompetitif. Liquipedia mencatat periode karier kepelatihannya dimulai sejak 2021. Ia pernah menjadi analis dan coach di EVOS sebelum bergabung dengan ONIC pada 2024.

Gelar FFWS SEA 2025 Spring menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam kariernya bersama ONIC. Kala itu, AFM membantu tim bangkit setelah awal musim yang buruk. Pada pekan pertama, ONIC bahkan berada di posisi ke-16 dari 18 tim, sebelum kemudian mengalami perkembangan seiring adaptasi terhadap masalah drop zone dan pola permainan.
Namun, keunikan AFM musim ini justru terlihat dari keberaniannya bereksperimen.
Pada fase Knockout FFWS SEA 2026 Fall, ia mengembalikan Adam ke roster utama setelah sebelumnya diparkir, lalu memberikan peran penting kepada Poom, pemain Thailand yang baru bergabung dengan ONIC. Perubahan tersebut beriringan dengan peningkatan performa ONIC dari 84 poin menjadi 87 lalu 116 poin dalam tiga matchday Phase 2.
Bahkan keputusan menjadikan Poom sebagai kapten diambil berdasarkan apa yang disebut AFM sebagai sebuah “gambling” dan feeling untuk mencoba struktur yang berbeda.
Menjelang Grand Finals, eksperimen itu kembali diuji karena masuknya Secret WAG menggantikan Team AK membuat peta drop zone berubah. AFM mengungkap ONIC harus menggambar ulang dinamika wilayah karena kepentingan kedua tim beririsan di Pochinok, Mars Electric, dan Clock Tower.
Ady: Konsisten di Internasional, Hanya Kurang Gelar Juara
Adi “Ady” Gustiawan memiliki cerita yang cukup berbeda. Bersama RRQ Kazu, ia sudah berulang kali berada di panggung internasional dan menangani tim yang memiliki ekspektasi tinggi.
Salah satu catatan terbesar datang di FFWS Global Finals 2025, ketika RRQ Kazu finis di posisi keempat setelah sebelumnya tampil dominan di Knockout Stage.
RRQ juga memiliki rentetan hasil internasional lain dalam beberapa tahun terakhir. Data kompetitif tim menunjukkan mereka finis kedua di FFWS Global Finals 2024, kedua di Esports World Cup 2025, dan keempat di Global Finals 2025.

Coach Adyy
Bagi Ady, persoalan tim besar bukan sekadar soal kemampuan mekanik. Dalam salah satu wawancara resminya, ia menggunakan analogi bahwa “power saja tidak cukup” dan pentingnya kontrol, pengambilan keputusan, serta kemampuan menahan diri dalam situasi tertentu.
Pendekatan tersebut juga terlihat dalam pembicaraannya mengenai RRQ Kazu. Ia menganggap tantangan tim bukan lagi sekadar membangun chemistry, melainkan mengubah konsistensi menjadi hasil yang benar-benar selesai.
Ada pula sisi lain yang menarik dari Ady: ia mendapat kepercayaan besar dari manajemen RRQ. Dalam evaluasi internal yang pernah dibahas sebelumnya, keputusan mengenai kondisi roster Kazu dipercayakan kepadanya sesuai kebutuhan tim.
Di level kompetitif, Ady juga menjadi coach dari RRQ Kazu ketika mereka menjadi runner-up FFMAI 2026 Summer, dengan Bigetron sebagai juara.
Tri: Proyek Jangka Panjang yang Mendadak Berubah Jadi Panggung SEA
Di antara empat coach, Tri Julio Edwardo membawa cerita paling berbeda karena Grand Finals FFWS SEA 2026 Fall menjadi kelanjutan langsung dari perjalanan MBR Omega yang dibangun dari level nasional.
MBR Omega berhasil memenangkan FFNS 2026 Fall dan memperoleh tiket menuju FFWS SEA 2026 Fall. Menurut Tri, keberhasilan itu tidak datang dari perubahan instan, melainkan dari proyek yang dibangun secara bertahap dan terus dievaluasi setelah beberapa eksperimen sebelumnya belum memberikan hasil maksimal.
Di level SEA, tantangan tersebut semakin besar. Tri bahkan mengakui bahwa strategi yang bekerja di FFNS tidak bisa begitu saja dibawa ke pertandingan melawan tim-tim Asia Tenggara. MBR harus mengubah pendekatan dari permainan yang lebih agresif menjadi permainan yang lebih tenang dan terukur, terutama dalam aspek makro.

Tim MBR Omega Ketika Juara FFNS 2026 Fall
Pendekatan Tri juga terlihat dari cara ia menangani momentum pemain. Setelah MBR lolos ke Grand Finals, ia tidak membiarkan tim terlalu lama merayakan hasil tersebut.
Euforia atau kesedihan cukup sepuluh menit, lalu kembali bekerja.
Menurut Tri, lolos ke Grand Finals belum berarti menjadi juara ataupun mengamankan tiket Global Finals. Karena itu, tim langsung kembali menganalisis lawan.
Bahkan untuk Grand Finals, Tri berencana mengubah pendekatan drop zone. Jika di fase liga MBR lebih menghormati klaim tim-tim SEA, kini mereka akan lebih berani mempertahankan wilayah yang diinginkan demi mengejar 110 poin secepat mungkin.
Empat Coach, Empat Pendekatan
Menariknya, keempat coach ini memiliki cara berbeda dalam menghadapi fase Grand Finals.
| Coach | Tim | Rekam Jejak yang Menonjol | Ciri Pendekatan |
|---|---|---|---|
| Chrisjo | Bigetron by Vitality | Juara FFWS ID 2024 Fall, juara FFMAI 2026 Summer | Eksplorasi lineup dan adaptasi komposisi |
| AFM | ONIC | Juara FFWS SEA 2025 Spring | Eksperimen strategi, roster, dan peran pemain |
| Ady | RRQ Kazu | Berulang kali membawa RRQ ke panggung internasional, namun belum pernah juara | Kontrol, detail, konsistensi, dan pengambilan keputusan |
| Tri Julio | MBR Omega | Juara FFNS 2026 Fall, debut di FFWS SEA 2026 | Pengembangan jangka panjang, adaptasi makro, dan disiplin mental |
Yang menarik, tidak ada satu pendekatan yang benar-benar sama.
Chrisjo memperlihatkan bagaimana pergantian personel dapat menjadi bagian dari proses mencari formula. AFM lebih terlihat sebagai coach yang berani mengubah struktur ketika momentum membutuhkan sesuatu yang berbeda. Ady berangkat dari pengalaman menangani tim besar dan menekankan kontrol terhadap detail. Sementara Tri membawa pendekatan pembangunan proyek yang bertahap dan realistis.
Grand Finals Akan Menguji Semua Pendekatan
Empat coach tersebut kini menghadapi ujian yang sama.
Bigetron datang dengan roster yang berubah dan momentum positif. ONIC datang dengan juara dunia (POOM) dan juara regional dalam lanskap persaingan yang juga berubah. RRQ Kazu membawa pengalaman panjang tetapi juga sejarah beberapa kali gagal mengubah performa kuat menjadi trofi. Sementara MBR Omega datang sebagai debutan yang baru saja naik dari FFNS.
Grand Finals akan menentukan apakah pendekatan yang berhasil membawa mereka sampai Surabaya juga mampu bertahan ketika tekanan meningkat.
Pada 19 September, mereka akan menghadapi enam pertandingan Point Rush. Kemudian pada 20 September, seluruh tim masuk ke format Champion Rush dengan ambang 110 poin.
Di titik tersebut, peran coach akan menjadi semakin penting. Bukan hanya soal strategi rotasi atau drop zone, tetapi juga kapan harus menyerang, kapan harus menahan diri, dan bagaimana menjaga pemain tetap fokus ketika satu keputusan dapat mengubah posisi mereka dalam perebutan gelar.
Empat coach Indonesia datang ke Surabaya dengan empat cerita. Kini, Grand Finals FFWS SEA 2026 Fall menjadi panggung untuk melihat bagaimana masing-masing cerita diterjemahkan menjadi permainan.