Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1
Rasisme dalam Esports: Ancaman yang Terus Menghantui Kompetisi Global
Maraknya tindakan rasisme dan diskriminasi masih menjadi tantangan besar di tengah berkembangnya industri esports global saat ini. (Foto Instagram @bigetronesports)
Industry

Rasisme dalam Esports: Ancaman yang Terus Menghantui Kompetisi Global

Aldonov Danoza - Selasa, 04 Agustus 2026
Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Di atas panggung, esports selalu menjual mimpi yang sama kepada dunia: siapa pun bisa menjadi juara selama memiliki kemampuan. Tidak peduli dari negara mana pemain berasal, bahasa apa yang digunakan, atau apa warna kulit yang dimiliki. Namun, ketika lampu arena padam dan perbincangan berpindah ke media sosial, mimpi indah tersebut sering kali berubah menjadi kenyataan yang jauh lebih pahit.

Esports kini telah tumbuh menjadi salah satu industri hiburan paling global di dunia. Tim dari Asia Tenggara dapat menumbangkan raksasa Tiongkok, organisasi Eropa bisa merekrut talenta Korea, sementara pemain Amerika Latin mampu bersaing ketat di panggung dunia.

Sayangnya, arus globalisasi yang begitu cepat ini juga membawa sisi gelap berupa nasionalisme berlebihan, xenofobia, hingga rasisme yang masih terus menghantui komunitas kompetitif. Fenomena tersebut bukanlah hal yang muncul dalam semalam, melainkan luka lama yang terus kembali berulang dengan wajah yang berbeda.

Dota 2 Menjadi Salah Satu Pengingat Terbesar

Kuku melakukan hinaan rasial di game publik DOTA 2.

Salah satu kasus rasisme yang paling dikenal dan meninggalkan jejak mendalam terjadi pada 2018 di kancah Dota 2. Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, dua pemain profesional asal Filipina, yakni Andrei "Skem" Ong dari compLexity Gaming dan Carlo "Kuku" Palad dari TNC Predator, menggunakan hinaan rasial "ching chong" dalam pertandingan publik yang ditujukan kepada pemain Tiongkok.

Insiden tersebut memicu gelombang kemarahan besar dari komunitas Tiongkok hingga menyebabkan halaman Steam Dota 2 dibanjiri ulasan negatif. Valve kemudian mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa perilaku diskriminatif tidak memiliki tempat di Dota 2 serta menyatakan bahwa organisasi profesional bertanggung jawab atas perilaku para pemainnya dan diharapkan memberikan tindakan disipliner yang sesuai.

Kasus Kuku bahkan berkembang menjadi polemik internasional ketika ia akhirnya tidak tampil di Chongqing Major setelah kontroversi tersebut memicu kekhawatiran terkait keamanan dan proses masuk ke Tiongkok. Peristiwa ini menjadi pengingat nyata bagaimana diskriminasi dapat muncul dari komunitas mana pun saat rivalitas kompetitif berubah menjadi kebencian personal.

Ujaran Rasis Kuku-Skemberlu Berbuah Ban Hingga TI9?

Ketika Meme dan Julukan Berubah Menjadi Stereotip Rasial

Baca Juga :

Rasisme dalam Esports: Ancaman yang Terus Menghantui Kompetisi Global

ZETA DIVISION Juarai OWCS Midseason Championship 2026

Selamat Datang di Dimensi Supernatural: Kolaborasi DAN DA DAN dengan Honor of Kings

Isu diskriminasi dan stereotip rasial juga menyasar cabang game lain seperti League of Legends. Kasus ini berakar dari perbedaan persepsi antarbudaya dalam melihat julukan atau meme yang beredar di dalam komunitas.

Bertahun-tahun lalu, sebagian komunitas League of Legends di Tiongkok terbiasa menjuluki champion Lucian dengan sebutan "Obama" hanya karena karakter tersebut berkulit hitam. Bagi sebagian pemain, panggilan itu dianggap sekadar candaan visual atau singkatan informal tanpa ada niat menghina secara langsung.

Namun, di luar Tiongkok, penggunaan julukan tersebut memicu kritik keras dari komunitas internasional karena dianggap merendahkan dan menyederhanakan identitas ras seseorang menjadi sebuah stereotip. Peristiwa ini menunjukkan betapa krusialnya tantangan komunikasi lintas budaya di ekosistem esports global, di mana sebuah lelucon yang dianggap biasa oleh satu kelompok dapat dirasakan sebagai tindakan ofensif yang menyakiti kelompok lain.

Honor of Kings dan Tantangan Baru Esports Global

View this post on Instagram

A post shared by Esports ID (@esports_id)

Perkembangan Honor of Kings yang mulai merambah panggung internasional juga tidak luput dari tantangan serupa. Seiring bertambahnya persaingan antarwilayah, gesekan antar pendukung dari berbagai negara semakin tak terhindarkan.

Dalam beberapa turnamen internasional, terutama saat tim-tim di luar KPL mulai mampu menumbangkan wakil Tiongkok, muncul berbagai komentar miring di platform media sosial yang menyerang pemain berdasarkan negara asal mereka.

Salah satu contohnya dialami oleh pemain Bigetron Esports, BTR Bal, yang sempat menjadi sasaran komentar bernuansa nasionalistik setelah menghadapi tim-tim KPL di turnamen internasional. Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa seiring berkembangnya ekosistem Honor of Kings secara global, tantangan dalam menjaga sportivitas di luar pertandingan juga ikut meningkat.

Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa komentar negatif tersebut umumnya dilontarkan oleh oknum pengguna internet dan tidak mencerminkan sikap seluruh komunitas. Pemain asal Tiongkok sendiri juga kerap menjadi korban rasisme dari komunitas internasional. Hal ini menandakan bahwa akar masalahnya bukan berasal dari negara tertentu, melainkan dari budaya toksik yang memanfaatkan anonimitas internet untuk menyerang identitas lawan.

Hasil KWC 2026: Team Vitality Tumbang dari Sang Raja Terakhir AG.AL

Rivalitas Sehat Versus Serangan Identitas

Persaingan dan rivalitas antar wilayah sejatinya merupakan bumbu utama yang membuat industri olahraga maupun esports terasa begitu menarik. Sepak bola memiliki rivalitas El Clásico, Formula 1 memiliki persaingan antarpabrikan, dan esports memiliki duel sengit antara KPL melawan tim global, Korea melawan Tiongkok di League of Legends, hingga Asia Tenggara melawan Tiongkok di Dota 2.

Namun, masalah besar timbul ketika rivalitas tersebut bergeser dari adu strategi dan kemampuan bermain menjadi serangan verbal terhadap identitas seseorang. Menghina negara asal, warna kulit, bahasa, maupun etnis seorang pemain sama sekali tidak ada hubungannya dengan esensi kompetisi dan sportivitas.

Semakin besar sebuah ekosistem esports, semakin tinggi pula potensi gesekan yang terjadi di tingkat fans. Media sosial dan algoritma platform sering kali mempercepat penyebaran konten provokatif yang memancing emosi dibanding mendorong diskusi yang sehat.

Tanggung Jawab Bersama Seluruh Ekosistem

Selama bertahun-tahun, publisher game dan pihak penyelenggara turnamen telah berupaya mengambil langkah lebih tegas dengan menerapkan aturan kode etik yang ketat serta sanksi bagi pemain yang terbukti melakukan diskriminasi. Namun, penegakan aturan saja tidak pernah cukup tanpa adanya perbaikan budaya dari dalam komunitas itu sendiri.

Komunitas penonton memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan arah masa depan budaya esports. Mendukung tim kesayangan tidak harus dilakukan dengan cara merendahkan negara lain, dan mengkritik performa buruk seorang pemain tidak boleh dijadikan alasan untuk menyerang ras atau latar belakangnya.

Esports lahir dari gagasan bahwa siapa pun dapat duduk di panggung yang sama dan berlaga dengan aturan yang setara. Jika kemenangan ditentukan oleh keahlian mekanik dan taktik, maka kekalahan pun harus diterima secara sportif. Pada akhirnya, yang menentukan masa depan industri ini bukanlah seberapa riuh sorak-sorai penonton di tribun, melainkan seberapa dewasa komunitasnya dalam menghormati lawan di seberang layar sebagai sesama manusia.

Google
Tambahkan Esports.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Ditulis Oleh

Aldonov Danoza

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman mendalam dalam penyusunan artikel berita industri esports, analisis taktis game, konten informatif, serta optimasi mesin pencari (SEO) untuk audiens media digital. Lulusan Universitas Pelita Harapan (2015–2020) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan analisis mendalam. Memastikan artikel dikembangkan melalui riset data turnamen, analisis strategi gameplay, serta verifikasi informasi guna menyajikan liputan esports yang tajam dan berbobot bagi pembaca. Berbagai topik yang menjadi fokus utama meliputi industri esports (khususnya kompetisi profesional seperti MPL Indonesia), analisis taktis dan meta game mobile, perkembangan industri gaming, teknologi, media digital, hingga dinamika komunitas gamers di Indonesia.
Show More
Follow Me

Berita Terkait