Akuisisi senilai US$55 miliar (setara Rp896,5 triliun) yang membawa Electronic Arts (EA) menjadi perusahaan privat kini mulai memunculkan konsekuensi yang telah lama dikhawatirkan.
Setelah resmi berada di bawah konsorsium investor pimpinan Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi bersama Silver Lake dan Affinity Partners, laporan terbaru menyebut EA tengah menyiapkan penghematan besar-besaran yang berpotensi memicu gelombang PHK masif.
Laporan Bloomberg mengungkap EA telah menyampaikan rencana pemangkasan biaya operasional hingga US$700 juta (setara Rp11,4 triliun) per tahun kepada para pemberi pinjaman.
Sekitar US$170 juta (setara Rp2,77 triliun) dari anggaran tersebut berasal dari efisiensi organisasi yang mengacu pada pengurangan tenaga kerja. Langkah ini merupakan dampak langsung dari struktur leveraged buyout (LBO), di mana EA kini harus menanggung beban utang sekitar US$20 miliar (setara Rp326 triliun) pasca-akuisisi.
EA Resmi Dimiliki PIF Arab Saudi, Akuisisi Rp55 Miliar Dolar AS Tuntas
Kekhawatiran Pengamat dan Dokumen Internal Karyawan
Jurnalis Bloomberg, Jason Schreier, menilai tekanan finansial terhadap EA meningkat drastis akibat beban bunga pinjaman tersebut.
"EBITDA tahunan EA berada di kisaran US$1,5 miliar, yang seharusnya cukup untuk membayar bunga pinjaman. Namun perusahaan telah memberi tahu para investor utangnya bahwa mereka akan memangkas biaya tahunan sebesar US$700 juta, termasuk US$170 juta melalui efisiensi organisasi. Dengan kata lain, PHK besar-besaran." Jason Schreier, Jurnalis Bloomberg
Sebelumnya, ketika transaksi diumumkan pada September 2025, manajemen EA sempat mencoba menenangkan karyawan melalui dokumen internal.
"Tidak akan ada perubahan langsung terhadap pekerjaan, tim, maupun aktivitas kerja sehari-hari Kamu sebagai akibat dari transaksi ini." Manajemen Electronic Arts, FAQ Internal untuk Karyawan
Namun, frasa "tidak ada perubahan langsung" sejak awal disinyalir menyisakan ruang bagi restrukturisasi setelah akuisisi tuntas.
EA Resmi Dimiliki PIF Arab Saudi, Akuisisi Rp55 Miliar Dolar AS Tuntas
Perubahan Fokus Bisnis dan Optimisme Manajemen
Beban utang yang besar diperkirakan akan memaksa EA lebih selektif dalam mendanai proyek game. Perusahaan diprediksi akan memperkuat franchise besar berpendapatan tinggi seperti EA Sports FC, Battlefield, Apex Legends, dan The Sims, sementara proyek baru yang lebih berisiko berpeluang ditunda atau dibatalkan.
Meski dihadapkan pada kekhawatiran PHK dan sorotan politik terkait kepemilikan dana asing, CEO EA Andrew Wilson tetap menyatakan optimisme terhadap masa depan perusahaan.
"Tim kami yang kreatif dan penuh semangat telah menghadirkan pengalaman luar biasa bagi ratusan juta penggemar, membangun berbagai IP paling ikonik di industri, serta menciptakan nilai yang besar bagi perusahaan. Momen ini merupakan pengakuan yang kuat atas pencapaian mereka." Andrew Wilson, CEO Electronic Arts
Ia meyakini kemitraan baru ini akan membawa peluang pertumbuhan yang jauh lebih besar di masa mendatang.
"Ke depannya, kami akan terus mendorong batas hiburan, olahraga, dan teknologi untuk membuka berbagai peluang baru. Bersama para mitra kami, kami akan menciptakan pengalaman transformatif yang mampu menginspirasi generasi mendatang. Saya semakin bersemangat dengan masa depan yang sedang kami bangun." Andrew Wilson, CEO Electronic Arts
Walau belum ada pengumuman resmi mengenai jadwal PHK massal, skema penghematan ratusan juta dolar dan beban utang pasca-akuisisi membuat restrukturisasi organisasi EA menjadi hal yang sulit dihindari.
EA Resmi Dimiliki PIF Arab Saudi, Akuisisi Rp55 Miliar Dolar AS Tuntas