Keputusan mengejutkan datang dari organisasi esports Tundra Esports. Pada 1 Juni 2026, organisasi tersebut resmi mengumumkan penjualan roster Dota 2 mereka yang tengah berada dalam performa terbaik setelah meraih empat gelar juara sepanjang musim dan mengamankan undangan langsung ke ajang The International (TI) serta Esports World Cup (EWC).
Tak hanya melepas roster andalannya, Tundra Esports juga mengonfirmasi bahwa mereka belum memiliki rencana untuk merekrut roster baru maupun berekspansi ke divisi esports lainnya dalam waktu dekat.
Di balik keputusan besar tersebut, pendiri sekaligus pemilik Tundra Esports, Maksim Demin, akhirnya buka suara dalam wawancara eksklusif bersama Cybersport.ru. Ia membagikan kisah awal berdirinya organisasi, tantangan membangun tim profesional, hingga filosofi yang membuat Tundra mampu menjadi salah satu kekuatan terbesar di skena Dota 2 dunia.

Berawal dari Kecintaan pada FIFA
Menurut Demin, dunia game telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya sejak usia muda. Ketertarikannya terhadap esports berawal dari kegemarannya memainkan FIFA di konsol PlayStation 3 bersama sang ayah.
"Game selalu menjadi bagian besar dalam hidup saya. Saat berusia 15 tahun, saya mendapatkan PlayStation 3 pertama dan benar-benar jatuh cinta dengan FIFA. Saya sering bermain melawan ayah saya dan di situlah muncul semangat kompetitif yang sangat kuat," ungkap Demin.
Ketertarikannya kemudian berkembang lebih jauh. Ia tidak lagi hanya ingin menjadi pemain, tetapi mulai berpikir untuk membangun sesuatu di industri yang dicintainya tersebut.
"Saya memulai dari FIFA karena itu game yang paling saya pahami. Namun semakin dalam saya mengenal industri esports, saya menyadari bahwa beberapa disiplin memiliki ekosistem kompetitif yang lebih besar dan peluang bisnis yang lebih luas. Dari situlah saya belajar bahwa kecintaan terhadap game saja tidak cukup untuk membangun bisnis yang berkelanjutan," lanjutnya.
Tantangan Membangun Organisasi Esports dari Nol
Mendirikan organisasi esports ternyata bukan perkara mudah. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Demin adalah mencari sumber daya manusia yang memiliki pengalaman dan kompetensi di industri esports yang saat itu masih berkembang.
Menurutnya, jumlah profesional berpengalaman di industri esports masih sangat terbatas ketika Tundra Esports pertama kali dibentuk.
"Ini jelas menjadi salah satu tantangan terbesar di awal. Saat kami mendirikan Tundra Esports, industri esports masih relatif muda dan sangat sulit menemukan orang-orang yang benar-benar berpengalaman," kata Demin.
Untuk mengatasi kendala tersebut, ia menggandeng sejumlah perusahaan konsultan yang fokus pada industri esports. Salah satu kolaborasi penting yang membantu perkembangan organisasi adalah kerja sama dengan HUDL Consultancy.
"Pada awal perjalanan, saya bekerja dengan beberapa perusahaan konsultan esports untuk memahami bagaimana industri ini berjalan dan menghindari kesalahan-kesalahan umum. Salah satu kerja sama paling penting adalah dengan HUDL Consultancy, yang membantu kami menemukan dan merekrut roster Dota 2 mudgolems," jelasnya.
Roster mudgolems inilah yang kemudian menjadi fondasi awal kesuksesan Tundra Esports di skena kompetitif Dota 2 internasional.
Kesuksesan Tidak Hanya Ditentukan oleh Pemain
Demin menegaskan bahwa keberhasilan sebuah organisasi esports tidak hanya ditentukan oleh kualitas pemain yang direkrut. Menurutnya, faktor pendukung di balik layar memiliki peran yang sama pentingnya.
"Saya setuju bahwa esports masih kekurangan tenaga profesional berkualitas. Karena itu, saya membangun tim melalui proses trial and error dan berusaha mengelilingi diri dengan orang-orang yang memiliki keahlian yang saya tidak miliki," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa salah satu pelajaran terbesar yang dipetik selama membangun Tundra Esports adalah pentingnya menciptakan sistem pendukung yang kuat.
"Jika melihat ke belakang, saya menyadari bahwa kesuksesan di esports bukan hanya soal merekrut pemain berbakat. Yang lebih penting adalah membangun infrastruktur yang tepat di sekitar mereka, mulai dari operasional, manajemen, scouting, hingga sistem pengembangan performa. Semua itu membutuhkan waktu," tutup Demin.

Tundra Esports Memasuki Babak Baru
Meski belum mengungkap secara rinci alasan penjualan roster Dota 2 mereka, pernyataan Demin memberikan gambaran bahwa perjalanan Tundra Esports selalu didasarkan pada pendekatan bisnis jangka panjang dan pembangunan fondasi organisasi yang kuat.
Dengan empat trofi musim ini serta tiket menuju The International dan Esports World Cup yang telah diamankan oleh roster tersebut, keputusan Tundra Esports untuk melepas skuadnya menjadi salah satu langkah paling mengejutkan di dunia esports sepanjang tahun 2026.
Kini, publik menantikan langkah selanjutnya dari organisasi yang pernah menjuarai The International tersebut dan bagaimana masa depan para pemain yang sebelumnya membawa nama Tundra Esports ke puncak kompetisi Dota 2 dunia.
source: Cybersport.ru