Indonesia kembali bersiap menjadi tuan rumah kompetisi internasional Free Fire. Kali ini, giliran FFWS SEA 2026 Fall yang akan menggelar Grand Finals di Surabaya pada 19–20 September 2026.
Ajang tersebut sekaligus menjadi kesempatan baru bagi tim-tim Indonesia untuk mengakhiri sebuah pola menarik. Pasalnya, Indonesia memang pernah mengangkat trofi ketika menjadi tuan rumah turnamen internasional Free Fire, tetapi belum berhasil mengulanginya pada dua ajang Free Fire World Series (FFWS) yang digelar di Tanah Air.
Sebelum membicarakan peluang Indonesia di Surabaya, ada baiknya melihat kembali sejarah tiga turnamen internasional yang pernah digelar di Indonesia sejak 2019.

FFAI 2019: Island of God Jadi Juara di Rumah Sendiri
Sejarah tersebut bermula dari Free Fire Asia Invitational (FFAI) 2019 yang berlangsung di ICE BSD, Tangerang, pada 7 September 2019.
Kompetisi ini mempertemukan 13 tim dari berbagai negara Asia dan Afrika, termasuk tiga wakil Indonesia, yakni Island of God, EVOS Roar, dan RRQ Poseidon. Garena juga mencatat bahwa FFAI 2019 menjadi bagian dari rangkaian kompetisi internasional Free Fire yang mempertemukan tim dari sejumlah negara di kawasan Asia.
Hasilnya menjadi momen spesial bagi Indonesia.
Island of God berhasil keluar sebagai juara setelah menjalani delapan ronde dan mengumpulkan 2.345 poin. Mereka unggul atas wakil Thailand, Thonburi Esports, yang finis di posisi kedua dengan 2.245 poin.
Lebih istimewa lagi, Indonesia juga menempatkan EVOS Roar di posisi ketiga dengan 1.765 poin. Artinya, dua dari tiga tim Indonesia berhasil mengamankan podium dalam turnamen internasional tersebut.
Island of God kemudian membawa pulang hadiah utama US$15.000, sedangkan pemain mereka, IOG Cavella, mendapatkan penghargaan Predator dengan hadiah tambahan US$1.000.
Pada titik inilah Indonesia memiliki catatan sempurna sebagai tuan rumah: tampil di kandang sendiri dan langsung menjadi juara.
Namun, kompetisi Free Fire berkembang sangat pesat setelah periode tersebut.
FFWS SEA 2024: Buriram United Menggagalkan Indonesia di Surabaya
Lima tahun kemudian, Indonesia kembali menjadi tuan rumah turnamen internasional besar Free Fire.
FFWS SEA 2024 Fall berlangsung di Surabaya pada 13 Oktober 2024. Turnamen regional tersebut menjadi salah satu kompetisi FFWS terbesar yang pernah digelar di Indonesia.
Kali ini, hasilnya berbeda.
Buriram United Esports dari Thailand tampil sebagai juara setelah mengumpulkan 100 poin, unggul dari juara bertahan Team Falcons yang finis dengan 89 poin. Buriram meraih gelar melalui kombinasi satu Booyah, 34 poin placement, dan 49 poin eliminasi.
Tiga wakil Indonesia yang tampil di pertandingan tersebut belum mampu membawa pulang trofi. RRQ Kazu finis keenam, EVOS Divine di posisi ketujuh, sedangkan Bigetron Delta berada di peringkat kedelapan.
Meski gagal menjadi juara di hadapan pendukung sendiri, ketiganya tetap mengamankan tiket menuju FFWS Global Finals 2024 di Brasil.
Hasil tersebut menjadi awal dari pola yang kemudian kembali muncul setahun berselang: Indonesia menjadi tuan rumah, tetapi trofi justru dibawa pulang tim dari Thailand.
FFWS Global Finals 2025: Indonesia Arena Kembali Jadi Saksi

Jika FFWS SEA 2024 berada di level regional, tantangan berikutnya jauh lebih besar.
Pada 15 November 2025, Indonesia menjadi tuan rumah FFWS Global Finals 2025 di Indonesia Arena, Jakarta. Ini merupakan panggung tertinggi kompetisi Free Fire dan mempertemukan tim-tim terbaik dari berbagai wilayah dunia.
Ekspektasi terhadap wakil Indonesia otomatis semakin tinggi.
Namun, lagi-lagi trofi tidak jatuh ke tangan tuan rumah.
Buriram United Esports kembali menjadi juara. Tim Thailand tersebut mengunci gelar melalui format Champion Rush setelah mencatat 103 poin, hanya unggul satu poin atas Fluxo dari Brasil yang mengumpulkan 102 poin.
Buriram sekaligus mencatat sejarah dengan menjadi juara FFWS Global Finals setelah sebelumnya juga memenangkan FFWS SEA Fall 2024 di Surabaya.
Sementara itu, RRQ Kazu menjadi tim Indonesia dengan posisi terbaik dengan finis keempat dan mengumpulkan 73 poin. EVOS Divine berada di peringkat kesembilan dengan 63 poin.
Yang semakin menarik, pemain Buriram, Wassana, juga dinobatkan sebagai Grand Finals MVP sekaligus Predator.
Indonesia Pernah Juara, Tapi Belum di Panggung FFWS
Dari rangkaian tersebut muncul fakta yang cukup menarik.
Indonesia memang pernah menjadi juara saat menjadi tuan rumah turnamen internasional Free Fire, yakni melalui Island of God di FFAI 2019.
Namun, ketika ajang yang digelar di Indonesia memiliki label FFWS, hasilnya berbeda.
| Turnamen | Tahun | Lokasi | Juara |
|---|---|---|---|
| Free Fire Asia Invitational | 2019 | ICE BSD, Tangerang | Island of God ???????? |
| FFWS SEA Fall | 2024 | Surabaya | Buriram United Esports ???????? |
| FFWS Global Finals | 2025 | Jakarta | Buriram United Esports ???????? |
| FFWS SEA Fall | 2026 | Surabaya | Belum digelar |
Pola tersebut membuat narasi “kutukan tuan rumah” cukup menarik untuk dibicarakan, meski tentu saja tidak bisa dianggap sebagai faktor kompetitif yang benar-benar menentukan hasil pertandingan.
Justru yang lebih masuk akal adalah melihat perubahan level persaingan.
FFAI 2019 merupakan turnamen internasional yang mempertemukan 13 tim, sedangkan FFWS kini memiliki struktur kompetitif yang jauh lebih matang dan mempertemukan tim-tim terbaik dari berbagai region. Karena itu, tingkat kesulitan untuk memenangkan trofi juga semakin tinggi.
Buriram United Justru Jadi Penghalang Utama
Ada satu nama yang membuat pola ini semakin menarik: Buriram United Esports.
Tim Thailand tersebut berhasil menjadi juara saat FFWS SEA 2024 Fall digelar di Surabaya. Setahun kemudian, mereka kembali memenangkan FFWS Global Finals 2025 di Jakarta.
Dengan kata lain, dua kali Indonesia menjadi tuan rumah FFWS dalam dua musim beruntun, dua kali pula Buriram United menjadi tim yang mengangkat trofi.
Dominasi tersebut tentu bukan berarti Indonesia selalu kalah karena faktor tuan rumah. Buriram memang memiliki kualitas kompetitif yang terbukti di level regional maupun global.
Namun, dari sudut pandang sejarah, keberadaan Buriram membuat cerita mengenai “kutukan tuan rumah” semakin menarik menjelang FFWS SEA 2026 Fall.
Surabaya Kembali, Indonesia Punya Kesempatan Ketiga

Kini Surabaya kembali menjadi panggung FFWS SEA 2026 Fall Grand Finals pada 19–20 September 2026. Garena telah mengonfirmasi bahwa babak Grand Finals akan berlangsung secara offline di Surabaya, setelah fase Knockout Stage digelar sepanjang Agustus hingga awal September.
Kesempatan ini terasa semakin penting karena Indonesia kembali memiliki beberapa wakil yang akan berjuang di hadapan pendukung sendiri.
Pertanyaannya bukan hanya siapa yang akan menjadi juara, tetapi apakah Indonesia akhirnya mampu memutus pola yang terbentuk sejak 2024?
Setelah RRQ Kazu, EVOS Divine, dan Bigetron Delta gagal merebut gelar di Surabaya pada 2024, kemudian RRQ Kazu dan EVOS Divine kembali gagal memenangkan Global Finals di Jakarta pada 2025, tekanan terhadap tim-tim Indonesia tentu semakin besar.
Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa menjadi tuan rumah bukan otomatis menjadi sebuah kutukan.
Buktinya sudah ada: Island of God berhasil melakukannya pada 2019.
Tantangannya sekarang adalah mengulang keberhasilan tersebut di era FFWS, ketika kualitas kompetisi dan tekanan panggung sudah jauh lebih besar.
Apakah “Kutukan Tuan Rumah” Akan Berakhir di 2026?
Secara statistik, Indonesia memang belum berhasil memenangkan dua FFWS yang digelar di negeri sendiri. Tetapi menyebutnya sebagai kutukan tetap lebih tepat dipandang sebagai narasi daripada fakta kompetitif.
FFWS SEA 2026 Fall akan menjadi ujian berikutnya.
Garena telah memastikan Grand Finals berlangsung di Surabaya pada 19–20 September. Kini, para pemain Indonesia memiliki kesempatan untuk mengubah cerita.
Apakah trofi kembali terbang ke Thailand seperti dua tahun sebelumnya, atau justru Indonesia akhirnya mengangkat gelar FFWS di hadapan pendukung sendiri?
Jawabannya akan ditentukan di Surabaya.