Di tengah persaingan FFWS SEA 2026 Fall yang semakin ketat, persoalan regenerasi pemain menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Bukan hanya soal mencari pemain dengan mekanik bagus, tetapi juga bagaimana menemukan talenta baru yang memiliki cukup pengalaman untuk bersaing di level profesional.
Coach Liem menilai proses tersebut kini semakin sulit dilakukan karena jumlah turnamen di Indonesia tidak sebanyak sebelumnya.
“Untuk regenerasi sih cukup sulit ya buat mencari pemain baru. Apalagi turnamen di Indonesia juga sudah berkurang. Kesulitannya di situ, karena turnamennya kurang, jadi buat scouting player juga susah,” ujar Coach Liem.
Menurutnya, keberadaan turnamen domestik memiliki peran penting dalam membuka jalan bagi pemain-pemain baru. Kompetisi menjadi tempat bagi talenta muda untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memberikan kesempatan kepada tim profesional untuk melakukan scouting.
Ketika jumlah kompetisi berkurang, ruang bagi pemain baru untuk berkembang dan mendapatkan perhatian dari organisasi esports pun ikut menyempit.
Coach Liem Usulkan Liga Indonesia Kembali Digelar
Melihat kondisi tersebut, Coach Liem berharap Garena dapat kembali menghadirkan kompetisi dengan format liga nasional seperti yang pernah berlangsung sebelumnya.
“Mungkin bisa dibikin Liga Indonesia lagi seperti dulu,” sarannya.
Menurut Coach Liem, ekosistem kompetitif Free Fire Indonesia pada masa lalu memiliki lebih banyak pilihan kompetisi. Selain liga resmi, terdapat pula berbagai turnamen pihak ketiga yang menjadi tempat pemain-pemain baru menunjukkan kemampuan mereka.
“Dulu kan banyak turnamen-turnamen Liga Indonesia, ada turnamen third-party juga. Kalau seperti itu jadi lebih gampang sih buat scouting player,” lanjutnya.
Menurutnya, semakin banyak kompetisi yang tersedia, semakin besar pula peluang tim menemukan pemain potensial di luar nama-nama yang sudah dikenal.
Liga Domestik Bisa Menjadi Fondasi Regenerasi
Usulan Coach Liem pada akhirnya mengarah pada persoalan yang lebih besar: bagaimana menjaga regenerasi pemain Free Fire Indonesia tetap berjalan.
Turnamen domestik tidak hanya berfungsi sebagai ajang perebutan gelar. Kompetisi juga menjadi tempat pemain muda mendapatkan pengalaman bertanding, membangun mental kompetitif, dan menunjukkan kemampuan mereka kepada organisasi profesional.
Bagi tim esports, kompetisi yang rutin juga membuat proses scouting menjadi lebih terukur. Pelatih dapat memantau performa pemain secara berulang, bukan hanya berdasarkan satu pertandingan atau reputasi dari komunitas.
Hal tersebut menjadi semakin penting ketika tim-tim Indonesia harus bersaing dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara yang terus melahirkan talenta baru.
Regenerasi Jadi Pekerjaan Rumah Free Fire Indonesia
Komentar Coach Liem menunjukkan bahwa tantangan Free Fire Indonesia tidak hanya berkaitan dengan performa tim di panggung FFWS SEA. Ada persoalan ekosistem yang perlu dibangun dari level paling bawah.
Jika kompetisi domestik kembali diperbanyak dan memiliki jalur yang jelas menuju level profesional, pemain dari berbagai daerah akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkembang.
Pada akhirnya, keberadaan liga nasional bukan sekadar tentang menghidupkan kembali kompetisi lama. Lebih jauh, kompetisi tersebut dapat menjadi jalur regenerasi untuk memastikan Free Fire Indonesia tetap memiliki talenta baru yang siap bersaing di level SEA.