Eks Coach Beastcoast Ungkap Bakal Ada Gelombang Ban Match-Fixing di Dota 2 Amerika Selatan, Nama Parker Disebut
Parker Terlibat Matchfixing?
DOTA 2

Eks Coach Beastcoast Ungkap Bakal Ada Gelombang Ban Match-Fixing di Dota 2 Amerika Selatan, Nama Parker Disebut

MikeApalah - Selasa, 01 September 2026
Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Skena profesional Dota 2 Amerika Selatan disebut tengah menghadapi kemungkinan gelombang hukuman terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat match-fixing. Kabar tersebut disampaikan oleh mantan coach Beastcoast, John Albert “RedMonster” Mamani Condori, dalam sebuah siaran Twitch.

Pernyataan RedMonster kemudian dikutip dan disebarluaskan oleh jurnalis esports Pancho Justo melalui akun X.

Menurut RedMonster, terdapat sejumlah nama yang disebut masuk dalam daftar pemain yang berpotensi menerima hukuman. Ia bahkan mengklaim bahwa persoalan ini melibatkan tidak hanya pemain profesional, tetapi juga streamer dan mantan pemain.

Namun, perlu ditegaskan bahwa klaim mengenai daftar hukuman tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh PGL, ESIC, atau otoritas kompetitif terkait.

a
RedMonster

RedMonster Klaim Parker Masuk Daftar Pemain yang Akan Diban

Dalam pernyataannya, RedMonster menyebut nama Parker sebagai salah satu pemain yang menurutnya berada di posisi teratas dalam daftar calon penerima hukuman.

Panda dan banyak lainnya sudah membicarakan hal ini, dan saya bisa mengonfirmasi bahwa Parker berada di posisi teratas dalam daftar pemain yang akan diban. Ada banyak orang yang terlibat—streamer, mantan pemain profesional, dan sebagainya. Ini adalah sebuah mafia yang baru-baru ini saya ketahui.

RedMonster juga mengaku masih berhati-hati terhadap informasi tersebut.

Baca Juga :

Eks Coach Beastcoast Ungkap Bakal Ada Gelombang Ban Match-Fixing di Dota 2 Amerika Selatan, Nama Parker Disebut

Skena Toxic DOTA 2: Coach Astini Klaim Lebih dari 40 Pemain Terlibat Jaringan Match-Fixing di Peru

Insiden Parker Tertidur Saat Turnamen FISSURE Special, Mosquito Clan Minta Maaf!

Ia menyebut kabar itu sebagian benar dan sebagian masih berupa informasi yang belum dapat dipastikan karena dirinya tidak mengetahui apakah seluruh nama yang disebut benar-benar akan menerima hukuman.

Karena itu, pernyataan tersebut lebih tepat dipandang sebagai klaim mengenai kemungkinan adanya tindakan disipliner, bukan pengumuman resmi mengenai daftar pemain yang telah dijatuhi sanksi.

RedMonster Soroti Maraknya Match-Fixing Setelah DPC Dihapus

Mantan coach Beastcoast tersebut juga menyoroti perubahan ekosistem kompetitif Dota 2 setelah berakhirnya Dota Pro Circuit (DPC).

Menurutnya, absennya sistem DPC justru membuat praktik pengaturan pertandingan semakin marak di level tertentu.

Yang benar adalah setelah penghapusan DPC, sayangnya semakin banyak pemain yang mulai melakukan match-fixing.

Pernyataan ini memperlihatkan kekhawatiran bahwa persoalan integritas kompetitif tidak hanya terjadi pada level turnamen besar.

Kompetisi dengan skala lebih kecil juga disebut memiliki risiko tersendiri karena pemain dapat menghadapi tekanan finansial maupun lingkungan kompetitif yang berbeda.

Kasus TaiLung Jadi Salah Satu Sorotan Terbaru

Kekhawatiran mengenai integritas kompetitif kembali mencuat setelah kasus Santiago “TaiLung” Agüero Gustavo.

Pemain asal Peru tersebut sebelumnya dilarang tampil di The International 2026 dan dijatuhi larangan bermain di turnamen PGL terkait dugaan match-fixing.

Kasus tersebut menjadi salah satu perkembangan paling besar mengenai integritas kompetitif di skena Dota 2 Amerika Selatan dalam periode terakhir.

TaiLung sendiri sebelumnya telah membantah keterlibatan dalam taruhan maupun pengaturan pertandingan.

Perbedaan antara keputusan resmi penyelenggara dan bantahan pihak pemain membuat perkembangan kasus ini masih menjadi perhatian komunitas.

PlayTime Juga Pernah Terseret Dugaan 322

Sebelum kasus TaiLung, tim Amerika Selatan PlayTime juga sempat menjadi sorotan.

PlayTime didiskualifikasi dari Esports World Cup 2026 setelah muncul dugaan percobaan melakukan 322 atau pengaturan hasil pertandingan.

Dalam kasus tersebut, sejumlah pihak yang dikaitkan dengan tim turut menjadi perhatian, termasuk coach sekaligus sporting director Juan David “Vintage” Angulo Nicho dan pemain Gonzalo “DarkMago” Herrera.

Namun, dugaan terhadap individu tersebut perlu dibedakan dari keputusan resmi yang benar-benar telah ditetapkan melalui proses investigasi.

Apakah Benar Akan Ada Gelombang Ban Besar?

Pernyataan RedMonster tentu menimbulkan pertanyaan besar di kalangan penggemar.

Jika benar terdapat penyelidikan yang lebih luas terhadap praktik match-fixing di Amerika Selatan, maka sejumlah hukuman baru memang berpotensi muncul dalam waktu mendatang.

Namun, sampai saat ini belum ada pengumuman resmi yang mengonfirmasi gelombang ban besar dengan jumlah pemain tertentu seperti yang disebutkan RedMonster.

Karena itu, nama-nama yang disebut dalam pernyataan tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.

Dalam kasus integritas kompetitif, status seseorang dapat berubah setelah adanya investigasi, bukti, dan keputusan resmi dari pihak yang berwenang.

Match-Fixing Jadi Ancaman Serius bagi Ekosistem Dota 2

Kasus-kasus yang muncul dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa competitive integrity menjadi salah satu persoalan penting dalam perkembangan skena Dota 2 Amerika Selatan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan pemain atau organisasi yang terlibat, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan sponsor, penyelenggara turnamen, komunitas, dan penonton.

Bagi pemain muda yang ingin meniti karier profesional, keberadaan lingkungan kompetitif yang bersih juga menjadi faktor penting agar perjalanan mereka tidak terganggu oleh praktik ilegal atau tidak sportif.

Jika ada tindakan lebih lanjut dari penyelenggara maupun badan integritas esports, keputusan tersebut akan menjadi indikator penting mengenai seberapa serius masalah ini telah berkembang.

Komunitas Kini Menunggu Bukti dan Keputusan Resmi

Pernyataan RedMonster memperbesar sorotan terhadap dugaan match-fixing di Amerika Selatan, tetapi komunitas masih harus menunggu konfirmasi dari pihak resmi.

Kasus TaiLung dan PlayTime menunjukkan bahwa tindakan terhadap dugaan pelanggaran integritas kompetitif memang dapat berujung pada hukuman serius.

Kini, publik tinggal menunggu apakah klaim mengenai gelombang ban baru di skena Dota 2 Amerika Selatan benar-benar akan diikuti pengumuman resmi.

Untuk saat ini, pernyataan RedMonster menjadi sinyal bahwa persoalan match-fixing mungkin jauh lebih luas dari satu atau dua kasus. Namun, siapa saja yang benar-benar bersalah tetap harus ditentukan melalui proses investigasi dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Google
Tambahkan Esports.id Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Ditulis Oleh

MikeApalah

Michael Samuel adalah jurnalis dan editor yang telah berkecimpung di industri game, teknologi, dan esports Indonesia selama lebih dari 17 tahun. Berbekal pendidikan di Fakultas Akuntansi Universitas Nasional, saya menggabungkan kemampuan analisis dengan pengalaman panjang di dunia media digital. Sepanjang kariernya, Michael pernah menangani berbagai peran, mulai dari reporter, editor, marketing, business development, hingga Editor in Chief. Fokus utamanya adalah menghadirkan tulisan yang informatif, mendalam, dan mudah dipahami, khususnya seputar game, esports, teknologi, serta perkembangan industri digital.
Show More
Follow Me

Berita Terkait