Esports Dunia Kampus: Berprestasi Tanpa Sampingkan Edukasi
sumber: Website resmi IEL
Other

Esports Dunia Kampus: Berprestasi Tanpa Sampingkan Edukasi

Redaksi Esports - Jumat, 20 November 2020
Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Mahasiswa merupakan predikat yang spesial. Bagaimana tidak? Dari sekian banyak profesi yang ada di Indonesia, hanya mahasiswa yang disematkan gelar ‘maha’ di depannya. Predikat tersebut menempel lantaran peran mahasiswa yang penting seperti aktivis maupun sesosok agent of change. Namun, di abad ke-21 ini, menjadi mahasiswa bukan melulu soal belajar dan aktif organisasi, tetapi juga mencari jati diri guna menemukan passionnya. Salah satu yang terbentuk di era serba modern ini merupakan passion bermain game yang mana dapat disalurkan sebagai profesi atlet esports.

Gebrakan esports terhadap dunia perkampusan mulai ramai beberapa tahun belakangan. Tahun 2019 lalu, ada dua turnamen resmi yang digelar khusus untuk ranah kampus yakni, Indonesia Esports League (IEL) University dan PUBG Mobile Campus Championship (PMCC). Dikutip dari web resminya, Tencent games selaku publisher PUBG Mobile mengharapkan turnamen ini dapat memfasilitasi dan memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk berkarier di dunia esports.

IEL 2019 lalu mempertandingkan dua game yakni DOTA 2 dan Mobile Legends: Bang-Bang. Sebanyak 12 perguruan tinggi dari penjuru nusantara bertanding untuk memperebutkan titel terbaik. Binus University pun keluar sebagai jawara dalam kedua game. Di tahun berikutnya, IEL 2020 kembali hadir dan mengusung game yang berbeda, yakni DOTA 2 dan Free Fire. Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi pemegang predikat tim DOTA 2 terbaik setelah mengalahkan Kwik Kian Gie. Sedangkan dari pertandingan Free Fire, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) keluar sebagai juara berkat mengantongi total 2485 poin.

Binus University saat IEL Season 1 2019

Memasuki dekade baru, selain terus bergulirnya IEL dan PMCC, satu turnamen baru esports bagi mahasiswa muncul. Adalah LIMA Esports yang hadir ke permukaan dengan mempertandingkan game Mobile Legend: Bang-Bang. LIMA (Liga Mahasiswa) sendiri merupakan festival turnamen olahraga antar mahasiswa terbesar di Indonesia. Olahraga konvensional seperti basket, futsal, maupun badminton tak pernah absen dikompetisikan setiap tahunnya. Memasuki penghujung 2020, LIMA pun membawa gebrakan baru dengan memasukkan cabang olahraga esports.

Lantas, seberapa besar pengaruh kompetisi antar kampus tersebut terhadap bakat para talenta muda baru esports? Benarkah apa yang para publisher harapkan, yaitu memfasilitasi dan memberi kesempatan bagi para jiwa muda terbalaskan?

Rizky Abi Putra, support player tim DOTA 2 Binus University menghaturkan rasa syukurnya dengan kehadiran IEL. Ia merasa turnamen perdana antar kampus se-Indonesia tersebut memanjakan asa dan cita-citanya menjadi pemain profesional DOTA 2.

“Saya berencana menjadi pro-player, jika tidak ada IEL maka saya harus berusaha lebih ekstra. Tapi, dengan adanya IEL, mereka membantu kita agar dapat dinotice tim-tim Indonesia,” terang Abi yang juga merupakan pengurus Binus Esports.

Abi kala memenangkan IEL Season 1

Para mahasiswa pun memanfaatkan turnamen-turnamen antar kampus tersebut dengan maksimal. IEL sendiri seolah menjadi pintu masuk untuk para mahasiswa merintis karirnya di dunia esports. Terbukti salah satu jebolan Binus sendiri ada yang diberangkatkan ke Singapura pada helatan SEA Games 2019 untuk mengikuti pelatihan. Ialah Marcellino ‘Mj’ Jeremy yang berangkat ke Singapura tahun lalu guna berlatih bersama timnas DOTA 2. Tak hanya itu, menurut cerita Abi, ada rekannya yang juga  yang sempat dilirik tim profesional Indonesia Army Geniuses.

Tak berbeda jauh dengan kisah anak Binus, Apriliandi Saputro Desthoadi, ketua komunitas UGMEsports menjelaskan beberapa mahasiswanya sempat di-trial tim-tim Mobile Legends ternama seperti Alter Ego dan Geek Fam. Salah satu atlet tim inti PMCC-nya juga ditarik untuk menjadi bagian dari tim esports asal Semarang, VOIN Esports.

Bicara tentang kampus dan competitive scene secara umum, tak sedikit pula pro-player yang berangkat dari prestasi kecilnya di lingkungan kampus. Brizio Adi Saputra atau ‘Hyde’ salah satu punggawa BOOM Esports misalnya, merasa diuntungkan dengan kehadiran turnamen-turnamen esports di dalam kampus. Saat masih mengenyam bangku perkuliahan, ia melakukannya bersamaan dengan mengisi roster Pandora Esports.

“Membantu! (turnamen internal kampus). Karena semakin banyak turnamen yang diadakan, semakin terekspos para pemainnya, sama halnya seperti olahraga lain, contohnya basket,” tutur pria yang akrab disapa Zio tersebut.

Bagikan
Ditulis Oleh

Redaksi Esports

Berita Terkait