Valve secara resmi menaikkan harga lini Steam Deck OLED secara signifikan, membuat perangkat handheld gaming populer tersebut kini jauh lebih mahal dibanding sebelumnya. Kenaikan paling mencolok terjadi pada model Steam Deck OLED 1TB yang kini dibanderol mencapai USD 949 (aslinya USD 949) atau setara dengan lebih dari Rp15 juta hingga Rp16 juta tergantung pada kurs serta regulasi pajak di wilayah masing-masing.
Sebelum penyesuaian ini diberlakukan, model 1TB OLED dipasarkan dengan harga USD 649 (aslinya USD 649). Hal tersebut menandakan telah terjadi lonjakan harga yang sangat masif, yakni sekitar USD 300 (aslinya USD 300) hanya dalam satu kali kebijakan penyelarasan pasar. Kondisi serupa juga menimpa varian di bawahnya, di mana model Steam Deck OLED 512GB ikut mengalami kenaikan besar dari yang awalnya USD 549 (aslinya USD 549) menjadi USD 789 (aslinya USD 789).
Krisis Pasokan Komponen dan Tren Inflasi Perangkat Keras Global
Pihak Valve memberikan klarifikasi bahwa keputusan tidak populer ini terpaksa diambil lantaran dipengaruhi oleh melonjaknya biaya produksi komponen vital, terutama pada sektor memori dan ruang penyimpanan (storage) yang saat ini tengah didera tekanan suplai global. Selain faktor kelangkaan material inti, pembengkakan pada biaya logistik serta jalur distribusi perangkat keras internasional juga diklaim ikut andil dalam mengatrol harga jual Steam Deck di berbagai negara.
Fenomena meroketnya harga gadget ini sejatinya tidak hanya dirasakan oleh Valve sendirian. Sepanjang beberapa bulan terakhir di tahun 2026 ini, industri gim global memang sedang dihadapkan pada tren kenaikan harga perangkat keras secara massal. Produsen raksasa lain seperti Sony, Microsoft, hingga Nintendo terpantau sudah mulai menaikkan harga konsol serta aksesori resmi mereka di sejumlah wilayah. Kombinasi faktor inflasi ekonomi global, tingginya serapan pasar terhadap cip kecerdasan buatan (AI), serta ongkos produksi semikonduktor yang terus membumbung tinggi menjadi pemicu utama di balik terjadinya krisis harga tersebut.
Komparasi Nilai Guna dan Daya Saing Ekosistem SteamOS
Lini Steam Deck OLED sendiri pada awalnya diperkenalkan ke publik sebagai sebuah versi penyempurnaan menyeluruh dari varian Steam Deck original LCD. Perangkat ini menawarkan sejumlah keunggulan performa, seperti:
Visual Premium: Mengusung panel layar OLED HDR berukuran 7,4 inci yang sudah mendukung laju penyegaran (refresh rate) hingga 90Hz.
Efisiensi Daya: Dibekali kapasitas baterai yang lebih besar serta penggunaan unit pemrosesan APU 6nm terbaru dari AMD yang jauh lebih hemat daya.
Konektivitas Cepat: Sudah mengintegrasikan teknologi jaringan Wi-Fi 6E untuk menjamin kestabilan unduhan.
Daya Tahan Baterai: Valve mengklaim masa pakai baterai versi ini mampu bertahan 30% hingga 50% lebih lama jika dikomparasikan dengan model LCD generasi awal.
Meskipun membawa banyak peningkatan kualitas kenyamanan (quality of life), patokan harga baru yang kini merayap naik mendekati ambang batas USD 1.000 membuat banyak gamer mulai bersikap skeptis terhadap nilai guna (value for money) perangkat ini. Berada di rentang harga yang sedemikian tinggi membuat sebagian konsumen mulai melirik opsi pembanding dari kompetitor lain, seperti ASUS ROG Ally, Lenovo Legion Go, hingga deretan perangkat handheld berbasis Windows generasi baru yang di atas kertas menawarkan spesifikasi serta performa yang lebih tinggi.
Kendati demikian, Steam Deck dinilai masih memegang keunggulan mutlak pada aspek optimalisasi ekosistem SteamOS yang terkenal sangat ringan, stabil, dan praktis tanpa menuntut pengguna melakukan konfigurasi rumit khas Windows. Terlepas dari gelombang protes komunitas yang menyayangkan berakhirnya era handheld gaming murah, produk buatan Valve ini diprediksi akan tetap mempertahankan popularitasnya berkat dukungan pustaka (library) game Steam yang masif serta ekosistem modifikasi yang sangat aktif di seluruh dunia.