Home

News

Esports

Lifestyle

Other

Other

Nintendo Hentikan Sementara Penjualan Switch 2 Multi-Bahasa di Jepang untuk Cegah Praktik Penimbunan

Aldonov Danoza - Minggu, 14 Juni 2026 11:02:22

Nintendo mengambil tindakan tegas dengan menyetop sementara penjualan Nintendo Switch 2 versi multi-bahasa di Jepang akibat maraknya aktivitas penimbunan oleh para calo. (Foto Nintendo)

Nintendo mengambil langkah sangat tegas dan berani terhadap maraknya praktik penimbunan serta percaloan konsol dengan resmi menghentikan sementara waktu proses penjualan Nintendo Switch 2 versi multi-bahasa di wilayah Jepang.

Keputusan krusial ini terpaksa diambil setelah pihak manajemen perusahaan mendeteksi adanya kejanggalan berupa sejumlah pesanan massal yang dicurigai kuat dilakukan demi tujuan menimbun stok barang, yang nantinya akan dijual kembali dengan patokan harga jauh lebih tinggi di pasar sekunder.

Berbeda secara signifikan dengan regulasi di wilayah negara lain, pasar domestik Jepang memang diketahui memiliki dua varian unit Nintendo Switch 2 yang beredar:

Aturan Pembelian Diperketat dengan Syarat Minimal 50 Jam Waktu Bermain

Menurut keterangan resmi dari pihak Nintendo, penemuan rentetan transaksi mencurigakan yang mengarah pada aktivitas tengkulak tersebut mendorong perusahaan untuk langsung menyetop penjualan sembari merancang implementasi aturan pembelian baru yang berkali-kali lipat lebih ketat.

Langkah preventif ini merupakan bagian dari komitmen nyata Nintendo untuk memastikan bahwa unit konsol generasi terbaru mereka dapat dibeli secara adil oleh para pemain sesungguhnya yang memang berniat menggunakannya, bukan oleh kelompok spekulan yang sengaja memanfaatkan tingginya kurva permintaan pasar demi meraup keuntungan pribadi.

Sebagai bagian dari syarat baru yang sangat ketat, calon pembeli varian Switch 2 multi-bahasa ini diwajibkan untuk memiliki total akumulasi waktu bermain (playtime) minimal sebanyak 50 jam pada konsol Nintendo Switch generasi pertama, yang dihitung mundur hingga batas tanggal 31 Mei 2026. Pihak Nintendo juga menegaskan bahwa kalkulasi waktu bermain tersebut hanya akan valid jika dihitung dari game bertipe berbayar, sehingga dipastikan tidak akan mencakup durasi bermain dari aplikasi demo maupun game gratisan (free-to-play).

Selain itu, regulasi baru ini juga membatasi kuota di mana setiap satu akun Nintendo yang terverifikasi hanya diperbolehkan untuk melakukan pembelian maksimal satu unit konsol saja, sebuah kebijakan yang mirip dengan persyaratan ketat yang sempat diaplikasikan Nintendo pada masa awal peluncuran perdana Switch 2.

Faktor Lemahnya Nilai Tukar Yen Terhadap Pasar Global

Fenomena masifnya aksi penimbunan ini diduga kuat dipicu oleh adanya jurang perbedaan harga yang cukup mencolok antara pasar Jepang dan negara-negara luar lainnya. Meskipun Nintendo tercatat telah menaikkan harga Switch 2 versi domestik di Jepang, harga untuk model multi-bahasa terpantau masih tetap bertahan di angka 69.980 yen, atau jika dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah setara dengan Rp7.765.351 berdasarkan nilai kurs terbaru (1 yen = Rp110,96).

Dengan kondisi fluktuasi nilai tukar mata uang yen yang relatif melemah terhadap dolar AS dan euro, angka tersebut otomatis menjadi magnet yang jauh lebih menarik bagi para pembeli internasional. Bahkan setelah skema kenaikan harga global yang akan segera berlaku di beberapa wilayah, unit Switch 2 multi-bahasa dari Jepang ini dinilai masih dapat dibeli dengan estimasi harga yang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga versi resmi yang beredar di kawasan Amerika Serikat maupun Eropa.

Masalah percaloan dan keterbatasan stok sendiri sebenarnya bukan merupakan hal baru bagi Nintendo. Saat menjelang fase peluncuran awal dari Switch 2 pada tahun 2025 lalu, perusahaan raksasa ini juga sempat menghadapi lonjakan permintaan yang luar biasa tinggi di Jepang, hingga memaksa jutaan orang untuk mengantre dan mengikuti sistem program undian pembelian (lottery system).

Kala itu, Nintendo bahkan secara terbuka mengakui bahwa jumlah unit produksi yang tersedia di gudang mereka sama sekali tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh total permintaan pasar yang membeludak. Keputusan terbaru ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa Nintendo tidak ingin mengulangi kelalaian masalah distribusi yang pernah terjadi pada era peluncuran PlayStation 5 dan Xbox Series X beberapa tahun silam, ketika pasokan stok konsol di pasar global sempat dimonopoli oleh jaringan reseller ilegal dan serangan bot otomatis.

Baca Artikel Asli