Home

News

Esports

Lifestyle

Other

Industry

Peringati Hari Game Indonesia (HARGAI) 2026, Menteri Ekraf Ajak Masyarakat Populerkan Video Game dan Board Game Lokal

MikeApalah - Minggu, 09 Agustus 2026 20:39:16

HARGAI 2026

Industri gim Indonesia memasuki fase yang semakin penting. Bukan lagi sekadar menjadi pasar bagi gim asing, Indonesia mulai memperlihatkan kapasitasnya sebagai negara yang mampu menghasilkan gim dan membangun ekosistem industri sendiri.

Momentum tersebut terlihat dalam perayaan Hari Game Indonesia (HARGAI) ke-10 atau HARGAI 2026 yang digelar di Garuda Sparks Innovation Hub, FX Sudirman, Jakarta, pada Sabtu (8/8). Dalam acara tersebut, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya mengapresiasi perkembangan industri gim lokal sekaligus menekankan pentingnya kolaborasi untuk membawa karya Indonesia ke pasar global.

HARGAI 2026 menjadi ruang pertemuan bagi pemerintah, pelaku industri, developer, publisher, komunitas, hingga masyarakat untuk melihat perkembangan ekosistem gim Indonesia selama satu dekade terakhir.

HARGAI 2026
HARGAI 2026

Industri Gim Indonesia Tumbuh 18,22 Persen

Salah satu sorotan utama dalam HARGAI 2026 adalah pertumbuhan subsektor aplikasi dan gim yang disebut mencapai 18,22 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Teuku Riefky Harsya, pertumbuhan tersebut menjadi indikator penting bagi perkembangan ekonomi kreatif Indonesia. Tidak hanya menciptakan produk digital, industri gim juga memiliki potensi dalam menyerap tenaga kerja serta mendorong investasi.

“Pertumbuhan subsektor aplikasi dan gim meningkat 18,22 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tentu pertumbuhan ini menjadi sangat signifikan dengan menyerap tenaga kerja yang didukung program dari Kementerian Ekraf untuk meningkatkan investasi.”

Namun, pertumbuhan industri tidak cukup hanya mengandalkan jumlah studio atau talenta yang semakin banyak. Pemerintah melihat perluasan pasar dan kemampuan komersialisasi sebagai bagian penting agar pertumbuhan tersebut dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.

“Pendekatan yang dibutuhkan adalah kolaborasi antara pemerintah dan stakeholder untuk mengakselerasi serta mengkomersialisasikan gim dengan baik, sehingga semakin banyak gim Indonesia yang masuk ke pasar global.”

Pemerintah Dorong Gim Lokal Menembus Pasar Internasional

HARGAI 2026
HARGAI 2026

Tantangan berikutnya bagi industri gim Indonesia adalah memperluas jangkauan pasar. Produk lokal perlu mendapatkan kesempatan untuk diperkenalkan kepada konsumen, publisher, investor, dan mitra industri di luar negeri.

Kementerian Ekraf telah menjalankan sejumlah program untuk meningkatkan eksposur gim buatan Indonesia. Salah satunya dengan menghadirkan sembilan gim lokal di Games Corner Terminal 2 dan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Program tersebut memberikan ruang bagi gim lokal untuk diperkenalkan kepada masyarakat sekaligus wisatawan yang datang melalui salah satu pintu masuk utama Indonesia.

Selain itu, Kementerian Ekraf juga membawa 10 gim lokal ke ajang Gameseed sebagai bagian dari upaya membuka peluang pasar internasional.

Menurut Teuku Riefky, pemerintah ingin memastikan industri gim Indonesia tidak hanya berkembang di dalam negeri, tetapi juga memiliki kemampuan untuk bersaing secara global.

“Pemerintah hadir melalui Kementerian Ekraf, Komdigi, Kemendag, serta kolaborasi berkelanjutan dengan asosiasi, termasuk AGI dan APIBGI, untuk mendukung semakin kuatnya gim Indonesia, tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga untuk mendunia.”

Ia optimistis perkembangan tersebut dapat menciptakan ekosistem gim yang semakin sehat sekaligus memberikan efek berantai terhadap perekonomian nasional.

HARGAI 2026 Jadi Ruang Pertemuan Ekosistem Gim Indonesia

HARGAI 2026
HARGAI 2026

Memasuki penyelenggaraan ke-10, HARGAI bukan hanya menjadi perayaan bagi para gamer. Acara ini juga mempertemukan berbagai elemen yang memiliki keterkaitan dengan perkembangan industri gim dan board game di Indonesia.

HARGAI 2026 menyasar gamer dan komunitas, developer dan publisher lokal, media serta content creator, hingga pelajar dan masyarakat umum.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Ekraf juga meninjau langsung 15 studio gim dan lima board game yang memperkenalkan karya serta talenta buatan anak bangsa.

Kehadiran berbagai studio dan karya tersebut memperlihatkan semakin beragamnya aktivitas yang berkembang di dalam ekosistem gim Indonesia. Mulai dari pengembangan gim, distribusi, komunitas, konten digital, hingga produk board game.

AGI: Indonesia Mulai Menjadi Negara Pembuat Gim

Presiden Asosiasi Game Indonesia (AGI), Shafiq Husein, melihat perjalanan industri gim Indonesia selama 10 tahun terakhir sebagai sebuah proses yang diwarnai pencapaian sekaligus tantangan.

Menurutnya, memberikan apresiasi terhadap gim lokal bukan berarti menganggap seluruh karya Indonesia selalu lebih baik daripada produk luar negeri. Sebaliknya, apresiasi dibutuhkan agar developer lokal memiliki kesempatan untuk berkembang dan bersaing berdasarkan kualitas.

“Indonesia bukan hanya negara yang memainkan gim, tetapi juga menjadi negara yang membuat gim. Ekosistem gim yang sehat tentu harus dibangun agar kita dapat tumbuh bersama.”

Shafiq menilai pelaku industri membutuhkan ruang untuk mencoba berbagai pendekatan, termasuk kesempatan untuk mengalami kegagalan dan belajar dari proses tersebut.

“Menghargai berarti memberikan kesempatan untuk mencoba, kesempatan untuk menemukan, kesempatan untuk gagal, kesempatan untuk belajar, dan yang paling penting, kesempatan bagi karya Indonesia untuk bersaing berdasarkan kualitas.”

Pesan tersebut menjadi relevan ketika industri gim Indonesia mulai bergerak dari sekadar menjadi konsumen menuju produsen produk digital.

Tantangan Industri Gim Indonesia Menuju Pasar Global

Meskipun memiliki potensi besar, perjalanan gim lokal menuju pasar global tidak mudah. Developer harus berhadapan dengan persaingan yang sangat ketat, mulai dari kualitas produk, pendanaan, pemasaran, distribusi, hingga kemampuan mempertahankan komunitas pemain.

Karena itu, pengembangan talenta harus berjalan bersamaan dengan pembukaan akses pasar. Gim yang memiliki kualitas teknis dan kreatif tetap membutuhkan strategi komersial yang tepat agar dapat ditemukan dan diterima oleh pemain di berbagai negara.

Kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, perusahaan swasta, publisher, platform digital, dan komunitas menjadi semakin penting dalam proses tersebut.

HARGAI 2026 memperlihatkan bahwa pembangunan ekosistem tidak hanya dilakukan melalui produksi gim, tetapi juga melalui penciptaan ruang bagi karya lokal untuk diperkenalkan, mendapatkan masukan, dan berinteraksi dengan pasar.

HARGAI 2026 Ingin Bawa Cerita Indonesia ke Dunia

Dalam satu dekade mendatang, Shafiq Husein berharap semakin banyak gim buatan Indonesia yang mampu menembus pasar internasional.

Lebih jauh, gim lokal diharapkan tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga mampu membawa cerita, budaya, dan kreativitas Indonesia kepada pemain di berbagai belahan dunia.

“Kami berharap dalam 10 tahun ke depan semakin banyak gim Indonesia yang mampu menembus pasar global sekaligus memperkenalkan cerita, budaya, dan kreativitas Indonesia kepada dunia.”

Harapan tersebut menunjukkan bahwa gim dapat memiliki peran lebih luas sebagai produk ekonomi kreatif sekaligus medium untuk memperkenalkan identitas Indonesia.

Kolaborasi Jadi Kunci Pertumbuhan Industri Gim Indonesia

HARGAI 2026 diselenggarakan pada 8–9 Agustus 2026 dan menjadi salah satu momentum penting untuk melihat perkembangan industri gim Indonesia.

Perayaan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Kementerian Perdagangan, Disparekraf DKI Jakarta, Asosiasi Game Indonesia (AGI), dan Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia (APIBGI).

Penyelenggaraan HARGAI 2026 juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak, termasuk Dream Forge Creation, Lyto GOCpay, UniPin, Garena, serta Apple Developer Institute for Games.

Dengan pertumbuhan subsektor aplikasi dan gim yang mencapai 18,22 persen, peluang industri gim Indonesia semakin terbuka. Namun, pertumbuhan tersebut perlu diikuti dengan penguatan talenta, investasi, akses pasar, promosi, dan kemampuan developer untuk menghasilkan produk yang mampu bersaing secara internasional.

HARGAI 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang merayakan gim buatan Indonesia. Momentum satu dekade ini menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki peluang untuk berkembang dari negara dengan basis pemain yang besar menjadi salah satu negara yang turut menghasilkan produk gim berkualitas untuk pasar dunia.

Jika kolaborasi antara pemerintah, industri, komunitas, dan developer terus diperkuat, gim lokal Indonesia berpotensi menjadi salah satu kekuatan penting dalam ekonomi kreatif sekaligus membawa cerita Indonesia ke panggung global.

Baca Artikel Asli