Saat ini, kecerdasan artifisial (AI) sudah menjadi bagian dari keseharian.
Mulai dari mencari informasi, membuat gambar, hingga membantu membuat tulisan atau bahkan kode pemrograman, teknologi ini semakin mudah ditemukan dalam berbagai aktivitas digital.
Bahkan, tidak menutup kemungkinan artikel yang sedang kamu baca ini juga dibuat dengan bantuan AI.
Namun, bagaimana jika di masa depan konten buatan AI samakin sulit dikenali?
Kekhawatiran tersebut mulai mendapat perhatian dari pemerintah Uni Eropa.
Kawasan tersebut telah menyiapkan aturan yang mendorong transparansi penggunaan AI, termasuk bagaimana masyarakat dapat mengetahui apakah sebuah konten dibuat menggunakan teknologi AI.
Salah satu ketentuannya mengharuskan konten yang dihasilkan AI generatif memiliki penanda yang dapat dibaca mesin.
Aturan ini kemudian mendorong perusahaan seperti OpenAI untuk menyesuaikan teknologi mereka.
Uni Eropa Tegaskan Transparansi Konten AI

Langkah OpenAI menerapkan watermark merupakan bagian dari upaya memenuhi aturan transparansi AI yang berlaku di Uni Eropa.
Berdasarkan Pasal 50 Undang-Undang AI Uni Eropa, penyedia sistem AI generatif diwajibkan membuat output yang dihasilkan AI dapat diidentifikasi menggunakan penanda yang dapat dibaca mesin.
Aturan ini akan berlaku penuh bagi perusahaan yang beroperasi di pasar Uni Eropa selambat lambatnya 2 Desember 2026.
Karena itu, OpenAI bersama sejumlah perusahaan teknologi lainnya perlu menyesuaikan sistem mereka agar memenuhi ketentuan tersebut.
Watermark ini nantinya diterapkan secara otomatis pada output teks ChatGPT dan Codex yang memenuhi syarat di Uni Eropa.
Dengan adanya penanda tersebut, konten yang dihasilkan AI diharapkan dapat lebih mudah dibedakan dari konten buatan manusia.
OpenAI Siapkan Sistem Watermark yang Tak Terlihat

OpenAI menggunakan sistem bernama textGrain untuk menambahkan sinyal statistik yang tidak terlihat pada pilihan kata dalam output modelnya.
Sinyal tersebut kemudian dapat diperiksa menggunakan perangkat deteksi khusus untuk mengetahui apakah sebuah teks memiliki watermark AI.
Namun, teknologi ini masih memiliki keterbatasan, OpenAI mengakui bahwa teks yang lebih pendek lebih sulit dideteksi, dengan tingkat keberhasilan sekitar 80 persen.
Konten matematika dan teks yang telah melalui proses penyuntingan juga dapat menurunkan tingkat keberhasilan deteksi.
OpenAI menyebut sistem textGrain memiliki kinerja yang setara atau lebih baik dibandingkan sejumlah pendekatan watermarking teks lainnya.
Meski begitu, perusahaan tetap mengingatkan bahwa hasil yang kuat dalam kondisi ideal belum tentu menjamin deteksi yang akurat dalam penggunaan sehari-hari.
OpenAI juga berencana menyediakan teknologi tersebut sebagai sumber terbuka sehingga pihak lain dapat memodifikasi dan mengembangkannya.
Sementara itu, akses awal terhadap perangkat pendeteksinya akan dibatasi untuk peneliti dan organisasi ahli yang telah disetujui.
Selain berita di atas, yuk simak podcast Esports ID “Nongki di Lobby” di bawah ini. Selamat menonton!