Martin “Saksa” Sazdov akhirnya buka suara mengenai perselisihan yang pernah terjadi dengan mantan rekan setimnya di Tundra Esports, Neta “33” Shapira. Pemain Team Yandex tersebut menjelaskan bahwa hubungan keduanya sempat memanas akibat perbedaan pandangan dalam sejumlah situasi di dalam tim.
Meski demikian, Saksa menegaskan bahwa perselisihan tersebut bukanlah konflik besar seperti yang mungkin dibayangkan komunitas Dota 2. Menurutnya, masalah tersebut berkembang dari perbedaan pendapat yang kemudian semakin membesar.

Saksa membicarakan hal tersebut dalam sebuah podcast di kanal YouTube Last Free Nation Dota.
Saksa Ungkap Awal Perselisihan dengan 33
Saksa mengatakan bahwa dirinya tidak menyangka pembicaraan mengenai hubungannya dengan 33 akan mendapatkan perhatian besar dari komunitas.
Menurutnya, perselisihan tersebut pada dasarnya merupakan hal yang cukup biasa terjadi di antara pemain profesional. Keduanya memiliki pandangan berbeda mengenai tindakan masing-masing dalam situasi tertentu, hingga perdebatan tersebut akhirnya berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Orang-orang memang suka drama, tetapi sebenarnya tidak ada drama besar di sini. Ketika saya membicarakannya, saya bahkan tidak menyangka ceritanya akan tersebar seluas itu. Sebenarnya tidak banyak yang bisa diceritakan. Kami memiliki perbedaan pendapat: dia merasa saya melakukan kesalahan dalam situasi tertentu, sementara saya juga merasa ada beberapa hal yang dia lakukan dengan kurang tepat. Kami berdebat, kemudian situasinya berkembang dan semuanya mulai memburuk.
Saksa juga menjelaskan bahwa bermain bersama pemain yang sama dalam waktu lama dapat membuat seseorang membutuhkan suasana baru. Faktor tersebut, menurutnya, turut memengaruhi keputusan untuk mencari lingkungan tim yang berbeda.
Saksa Kini Lebih Nyaman Bermain dengan Pemain Muda
Selain perbedaan pandangan di dalam permainan, Saksa menyebut faktor kepribadian dan kecocokan energi sebagai salah satu alasan dirinya kini merasa lebih nyaman bermain bersama pemain yang lebih muda.
Ini bukan cerita besar atau konflik serius. Hanya saja, ketika kamu bermain dengan orang yang sama dalam waktu yang sangat lama, terkadang kamu ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Dan sejujurnya, sebagai pemain yang lebih tua, sekarang saya merasa lebih nyaman bermain bersama pemain-pemain yang lebih muda karena kami lebih cocok dari sisi kepribadian. Dari segi energi, kombinasi seperti ini terasa lebih sesuai.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa perpisahan Saksa dan 33 tidak semata-mata disebabkan oleh satu kejadian tertentu. Dinamika hubungan antarpemain serta kebutuhan untuk mendapatkan lingkungan baru juga menjadi bagian dari keputusan tersebut.
Saksa: Konflik Justru Bisa Membantu Tim
Dalam kesempatan yang sama, Saksa juga membagikan pandangannya mengenai konflik di dalam tim profesional.
Menurutnya, perbedaan pendapat tidak selalu menjadi sesuatu yang negatif. Justru, diskusi terbuka mengenai masalah yang muncul dapat membantu sebuah tim berkembang selama setiap pemain mampu menerima kritik secara konstruktif.
Menurut saya, secara keseluruhan, hal tersebut justru bisa memberikan manfaat. Meskipun tentu saja semuanya bergantung pada situasi dan orang yang terlibat. Ada orang yang terlalu mengambil percakapan seperti itu secara pribadi. Jika kamu memberikan masukan secara konstruktif dan mereka bersedia menerimanya, biasanya tidak akan ada masalah.
Bagi Saksa, kemampuan untuk membicarakan masalah secara langsung menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan sebuah tim esports.
Menurut Saksa, Diam Justru Bisa Membunuh Tim Perlahan
Saksa bahkan menilai menghindari konflik dapat memberikan dampak yang lebih buruk dibandingkan menghadapi masalah secara terbuka.
Ia mengaku pernah berada dalam situasi ketika para pemain memilih diam dan tidak membicarakan masalah yang sudah menumpuk. Menurutnya, pola tersebut pada akhirnya justru membuat kondisi tim semakin buruk.
Saya percaya percakapan seperti ini jelas lebih baik daripada memilih diam dan menghindari konfrontasi. Saya pernah berada dalam situasi ketika semua orang memilih diam, dan rasanya seperti kematian yang berjalan perlahan. Kamu tahu semuanya akan berakhir buruk. Jika masalah tersebut tidak dibicarakan secara langsung, kondisinya hanya akan semakin buruk seiring berjalannya waktu.
Pandangan tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya komunikasi dalam sebuah roster profesional. Bagi Saksa, perbedaan pendapat bukan sesuatu yang harus selalu dihindari selama setiap pemain mampu menyampaikannya dengan cara yang konstruktif.
Saksa dan 33 Pernah Membawa Tundra Esports Juara TI 2022

Saksa dan 33 memiliki sejarah panjang sebagai rekan setim. Keduanya memperkuat Tundra Esports pada periode 2022–2023 dan kemudian kembali bermain bersama pada 2024–2025.
Sebelumnya, Saksa juga pernah menyebut perselisihan personal dengan salah satu pemain sebagai salah satu alasan di balik kepergiannya dari Tundra Esports.
Kini, Saksa telah melanjutkan kariernya bersama Team Yandex. Sementara itu, pembicaraan mengenai hubungannya dengan 33 kembali muncul setelah ia menjelaskan bahwa konflik tersebut sebenarnya tidak sebesar yang dipersepsikan oleh komunitas.
Alih-alih sebuah drama besar, Saksa menggambarkannya sebagai konsekuensi dari perbedaan pendapat, dinamika hubungan antarpemain, serta kebutuhan untuk mencari lingkungan baru setelah bertahun-tahun bermain bersam

