Selama beberapa musim terakhir, ONIC identik dengan dominasi di skena kompetitif Mobile Legends Indonesia. Tim berjuluk Landak Kuning itu menjadi tolok ukur permainan modern berkat eksekusi makro yang rapi, mekanik individu yang kuat, serta kemampuan beradaptasi terhadap meta yang nyaris selalu lebih cepat dibanding tim lain.
Namun, MPL Indonesia Season 17 menghadirkan cerita yang berbeda. Meski tetap tampil sebagai salah satu tim terbaik dan berhasil mencapai Grand Final, ONIC terlihat tidak lagi memiliki dominasi mutlak ketika berhadapan dengan Bigetron. Bahkan, Robot Merah mampu beberapa kali mengalahkan ONIC sepanjang musim hingga akhirnya keluar sebagai juara. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Bigetron Berhasil Mematahkan Ritme Permainan Khas ONIC
Selama era kejayaannya, salah satu kekuatan terbesar ONIC adalah kemampuan mengendalikan tempo pertandingan. Mereka hampir selalu memaksa lawan bermain sesuai ritme yang mereka inginkan, mulai dari perebutan objektif awal hingga rotasi agresif ke berbagai lane.
Di MPL ID S17, Bigetron menjadi salah satu tim yang mampu mematahkan pola tersebut. Alih-alih mengikuti permainan cepat ONIC, Bigetron justru bermain lebih sabar dan disiplin.
Mereka tidak mudah terpancing melakukan teamfight yang merugikan dan lebih fokus mengamankan objektif penting seperti Turtle maupun Lord. Strategi ini membuat ONIC kesulitan menciptakan snowball yang biasanya menjadi senjata utama mereka.
Ketika ONIC tidak bisa unggul sejak early game, pertandingan menjadi jauh lebih seimbang dibanding musim-musim sebelumnya.
Meta Sudah Tidak Lagi Menguntungkan ONIC Sepenuhnya

Pada dua musim sebelumnya, ONIC sering kali unggul karena memiliki pemahaman meta yang lebih cepat dibanding rival-rival mereka. Banyak strategi yang kemudian diikuti tim lain justru pertama kali dipopulerkan oleh ONIC.
Namun pada Season 17, kesenjangan tersebut mulai mengecil. Tim-tim besar seperti Bigetron, RRQ, hingga Geek Fam menunjukkan kemampuan adaptasi yang jauh lebih baik.
Akibatnya, ONIC tidak lagi mendapatkan keuntungan besar dari sisi draft maupun inovasi strategi.
Beberapa hero comfort yang selama ini menjadi andalan ONIC sudah dipelajari secara mendalam oleh lawan. Situasi ini membuat fase draft menjadi lebih kompetitif dan mengurangi salah satu keunggulan utama Landak Kuning.
Bigetron Menjadi Tim yang Lebih Matang
Salah satu faktor yang sering luput dari perhatian adalah perkembangan internal Bigetron sendiri. Selama beberapa musim terakhir, Bigetron dikenal memiliki pemain-pemain berbakat, tetapi sering gagal menjaga konsistensi ketika memasuki fase krusial kompetisi.
Di Season 17, kondisi tersebut berubah drastis. Koordinasi antar pemain terlihat jauh lebih baik.
Rotasi lebih terstruktur, komunikasi lebih rapi, dan pengambilan keputusan saat teamfight menjadi lebih disiplin.
Hasilnya, Bigetron mampu tampil stabil sepanjang musim dan tidak lagi mengandalkan permainan individu semata. Mereka berkembang menjadi tim dengan identitas yang jelas serta mampu menjalankan strategi secara konsisten.
Teamfight dan Kontrol Objektif Menjadi Pembeda
Jika melihat pertandingan ONIC melawan Bigetron sepanjang musim, terdapat satu pola yang cukup mencolok. Bigetron hampir selalu tampil lebih efektif dalam perebutan objektif besar.
Mereka mampu memaksimalkan momentum ketika Turtle atau Lord muncul.
Bahkan dalam beberapa pertandingan, Bigetron tidak selalu unggul dari sisi jumlah kill, tetapi tetap berhasil memenangkan pertandingan karena lebih efektif mengonversi keunggulan objektif menjadi tekanan terhadap turret dan area map.
Di sisi lain, ONIC beberapa kali kehilangan momentum setelah gagal mengamankan objektif penting. Hal ini membuat mereka tidak bisa memainkan strategi tempo cepat yang selama ini menjadi ciri khas tim tersebut.
Faktor Mental dan Momentum Kompetitif
Dalam esports, faktor mental sering kali menjadi pembeda antara tim bagus dan tim juara. ONIC memasuki Season 17 sebagai salah satu favorit utama sekaligus tim yang sudah terbiasa mengangkat trofi.
Ekspektasi yang sangat tinggi tentu menghadirkan tekanan tersendiri.
Sebaliknya, Bigetron datang dengan motivasi besar untuk membuktikan diri. Setiap kemenangan atas ONIC meningkatkan kepercayaan diri mereka secara signifikan.
Momentum tersebut terus terbawa hingga babak playoff dan Grand Final. Ketika Bigetron berhasil meraih kemenangan-kemenangan penting, tekanan justru berpindah ke kubu ONIC yang dituntut untuk mempertahankan status mereka sebagai tim terbaik Indonesia.
ONIC Tidak Menurun, Kompetitor yang Meningkat

Menyebut performa ONIC di Season 17 sebagai penurunan mungkin kurang tepat. Faktanya, mereka tetap mampu mencapai Grand Final dan bersaing di level tertinggi.
Yang sebenarnya terjadi adalah kompetitor mereka, terutama Bigetron, mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Selama beberapa musim terakhir, ONIC selalu berada satu langkah di depan. Namun di MPL ID S17, jarak tersebut akhirnya berhasil dipangkas.
Bigetron mampu menemukan formula untuk menghadapi permainan ONIC, baik dari sisi draft, makro, maupun eksekusi teamfight. Karena itu, musim ini bisa dianggap sebagai titik penting dalam peta persaingan Mobile Legends Indonesia.
Dominasi ONIC belum berakhir, tetapi MPL Indonesia kini menunjukkan bahwa ada tim lain yang mampu menantang bahkan mengalahkan sang juara secara konsisten. Dan jika Bigetron mampu mempertahankan performa tersebut, rivalitas mereka dengan ONIC berpotensi menjadi salah satu cerita terbesar di skena kompetitif Mobile Legends Indonesia dalam beberapa musim mendatang.