Perbincangan soal performa pemain perempuan dalam esports kembali menjadi sorotan tajam, khususnya di komunitas League of Legends. Topik sensitif ini mencuat setelah seorang pelatih amatir mengklaim bahwa ia melacak siklus menstruasi rekan bermainnya demi meningkatkan peluang kemenangan. Alih-alih dianggap sebagai pendekatan berbasis data yang inovatif, klaim tersebut justru memicu perdebatan panjang tentang batas etika, privasi, serta stereotip terhadap perempuan di industri kompetitif.
Dalam unggahan yang viral di media sosial, pelatih tersebut mengaku telah mengumpulkan data dari 147 pertandingan. Ia menyebutkan bahwa win rate timnya berada di angka sekitar 55%, namun mengalami penurunan ketika rekan duetnya sedang menstruasi, dan meningkat secara signifikan ketika tidak. Klaim ini sontak menarik perhatian karena dianggap terlalu menyederhanakan faktor performa pemain yang kompleks menjadi sekadar kondisi biologis semata.
Invasif dan Memperkuat Stereotip Lama
Meski disampaikan dengan nada yang terkesan santai, banyak pihak menilai pendekatan ini sangat invasif dan tidak sensitif. Mengaitkan performa seorang pemain dengan siklus menstruasi tanpa konteks medis atau penelitian yang valid dinilai memperkuat stereotip lama bahwa perempuan kurang stabil secara emosional atau fisik dalam periode tertentu. Narasi seperti ini bukanlah hal baru dalam dunia esports yang secara historis masih didominasi oleh laki-laki.
Kasus ini juga mengingatkan kembali pada kontroversi serupa yang melibatkan pemain profesional League of Legends ternama, Gabriël “Bwipo” Rau. Pada tahun 2025, ia sempat menuai kecaman luas setelah menyatakan pendapat bahwa perempuan mungkin tidak dapat bermain secara optimal saat menstruasi. Pernyataan tersebut dianggap seksis oleh komunitas global dan berujung pada sanksi internal dari timnya sendiri, menandakan betapa sensitifnya isu ini di mata publik.
Respons Komunitas dan Tantangan Inklusivitas
Respons dari komunitas esports pun terbelah. Beberapa pihak menganggap unggahan tersebut hanyalah candaan atau eksperimen data yang tidak perlu dianggap serius. Namun, figur publik esports seperti Eefje “Sjokz” Depoortere menyoroti ironi di balik perdebatan ini. Ia menegaskan bahwa perempuan di berbagai bidang profesional lainnya mampu bekerja dalam kondisi fisik apa pun tanpa mengurangi kualitas performa mereka secara drastis.
Di sisi lain, diskusi ini sebenarnya membuka peluang untuk membahas kesejahteraan pemain secara lebih luas. Dalam dunia esports modern, performa tidak hanya ditentukan oleh mekanik permainan, tetapi juga kondisi mental dan fisik. Namun, menjadikan menstruasi sebagai variabel tunggal tanpa pendekatan ilmiah yang tepat justru berisiko memperkuat bias gender yang sudah lama ada.
Edukasi Sebagai Kunci Kesetaraan
Kontroversi ini kembali menegaskan bahwa industri esports masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam hal kesetaraan dan edukasi. Diskusi tentang performa seharusnya didasarkan pada data komprehensif yang menghargai integritas individu, bukan sekadar asumsi biologis yang belum tentu relevan dengan hasil akhir di dalam gim.
Tanpa perubahan pola pikir yang lebih inklusif, esports berisiko terus mengulang narasi lama yang menghambat perkembangan komunitasnya sendiri. Transparansi dan empati menjadi kunci utama agar lingkungan kompetitif tetap sehat bagi seluruh pemain tanpa memandang latar belakang gender.