Home

News

Esports

Lifestyle

Other

PUBG Mobile

Meski Gagal Dapat Medali, Coach Defiand Puji Perjuangan Tim PUBG Mobile di Asian Games 2026

MikeApalah - Jumat, 02 Oktober 2026 10:26:30

Coach Defiand

Perjalanan tim PUBG Mobile Indonesia di Asian Games 2026 harus berakhir tanpa medali. Skuad Merah Putih yang diperkuat Rosemary, Yummy, Zeta, Snape, dan Potato menempati peringkat keempat dengan 95 poin setelah menyelesaikan 12 pertandingan di Aichi-Nagoya, Jepang. Indonesia terpaut lima poin dari Pakistan yang mengamankan medali perunggu dengan 100 poin.

Hasil tersebut tentu meninggalkan kekecewaan bagi para pemain maupun tim pelatih. Meski demikian, perjuangan Tim PUBG Mobile Indonesia sepanjang kompetisi tetap menjadi bagian penting dari perjalanan mereka di panggung multievent Asia.

Tim PUBG MOBILE Asian Games 2026 Esports
Tim PUBG MOBILE Asian Games 2026 Esports

Di balik hasil tersebut, Deni “Defiand” Fianda, selaku head coach, membagikan cerita mengenai persiapan hingga situasi yang dihadapi tim ketika pertandingan berlangsung.

Menurut Defiand, persiapan yang dilakukan sebenarnya sudah berjalan maksimal. Tantangan terbesar justru datang dari keterbatasan waktu karena tim harus menjalani persiapan Asian Games di tengah padatnya kalender kompetisi PUBG Mobile.

“Persiapannya sebenarnya lumayan oke. Memang ada banyak halangan karena waktunya banyak terpotong. Kami berada di tengah-tengah PMPL, PMGO, dan berbagai kompetisi lain yang cukup memengaruhi kualitas persiapan. Tetapi untuk program latihan dan scrim yang sudah kami atur, semuanya sudah dilakukan semaksimal mungkin. Saya yakin dengan persiapan tersebut.”

Asian Games 2026 dan Padatnya Kalender Kompetisi PUBG Mobile

Defiand menjelaskan bahwa tim tidak memiliki waktu persiapan yang benar-benar panjang karena harus membagi fokus dengan kompetisi lain yang berlangsung berdekatan.

Agenda seperti PMPL dan PMGO membuat waktu latihan khusus untuk Asian Games menjadi lebih terbatas. Namun, kondisi tersebut tidak membuat tim mengurangi program yang sudah dirancang.

Latihan dan scrim tetap dijalankan semaksimal mungkin untuk mempersiapkan permainan, strategi, sekaligus menghadapi karakteristik lawan yang berbeda di panggung internasional.

Bagi Defiand, usaha yang diberikan tim selama masa persiapan sudah sesuai dengan kapasitas waktu yang mereka miliki.

Aturan Backstage Asian Games Jadi Tantangan Berbeda

Selain persoalan waktu, Defiand mengaku menemukan tantangan lain ketika pertandingan Asian Games dimulai, khususnya terkait kondisi backstage.

Berbeda dengan turnamen esports yang biasa diikuti, area backstage pada Asian Games memiliki sejumlah batasan. Perangkat elektronik tidak diperbolehkan dibawa ke area tersebut.

Tim hanya disediakan layar untuk menyaksikan pertandingan. Apabila pelatih ingin membuat catatan, satu-satunya pilihan adalah menggunakan kertas dan pulpen.

“Di pertandingan kami cukup kaget karena ada banyak limitasi. Di backstage tidak boleh ada elektronik apa pun. Kami hanya disediakan layar untuk menonton. Kalau ingin mencatat sesuatu, hanya bisa menggunakan kertas dan pulpen.”

Situasi tersebut membuat proses analisis harus dilakukan secara langsung selama pertandingan berlangsung. Defiand juga tidak memiliki kesempatan untuk membuka kembali rekaman permainan dengan perangkat elektronik sebelum memberikan evaluasi kepada para pemain.

Bagi seorang pelatih, kondisi seperti ini membuat proses pengambilan informasi dan penyusunan evaluasi harus dilakukan dengan cara yang berbeda.

Defiand Ketika Bertemu dengan Bapak Erick Thohir
Defiand Ketika Bertemu dengan Bapak Erick Thohir

Defiand Harus Mengandalkan Catatan Langsung

Keterbatasan di backstage juga berpengaruh terhadap komunikasi tim pelatih.

Defiand menjelaskan bahwa dirinya sebagai head coach dapat berada langsung bersama pemain dan pemain cadangan. Sementara itu, Kent, yang bertugas sebagai asisten pelatih, tidak dapat berkomunikasi langsung dengan tim dari area tersebut.

Kondisi ini membuat sebagian besar proses pengamatan dan evaluasi pertandingan harus ditangani langsung oleh Defiand.

“Benar-benar saya tidak bisa menonton ulang. Saya harus mencatat semuanya saat melihat pertandingan secara langsung. Mungkin dari situ menjadi pelajaran untuk berikutnya, bagaimana persiapannya dan bagaimana kami bisa lebih siap di antara game.”

Situasi tersebut menjadi pengalaman baru yang menurut Defiand dapat dijadikan bahan evaluasi untuk pertandingan maupun turnamen berikutnya.

Dengan tidak adanya akses terhadap perangkat elektronik, detail pertandingan harus diingat dan dicatat secara langsung agar dapat digunakan sebagai bahan feedback untuk game berikutnya.

Feedback Taktik dan Mental Tetap Diberikan Antargame

Meski menghadapi keterbatasan, Defiand tetap berusaha memberikan evaluasi setelah setiap pertandingan.

Menurutnya, feedback yang diberikan tidak hanya membahas sisi taktik, tetapi juga kondisi mental pemain. Hal ini penting karena pertandingan PUBG Mobile dalam format kompetitif terdiri dari beberapa game yang memungkinkan tim melakukan penyesuaian setelah hasil pertandingan sebelumnya.

“Saya rasa kami sudah memberikan yang terbaik untuk tim, baik dari feedback antar-game, apa yang harus dilakukan berikutnya, maupun secara taktik dan mental.”

Evaluasi antargame menjadi salah satu bagian penting dari pendekatan tim pelatih. Setiap pertandingan memberikan informasi baru mengenai pola permainan lawan, pengambilan keputusan, serta kondisi permainan yang dapat digunakan sebagai bahan penyesuaian.

Namun, di Asian Games, proses tersebut harus dilakukan dengan sumber daya yang lebih terbatas dibandingkan kondisi turnamen reguler.

Tim Sudah Berusaha Maksimal, Hasil Belum Berpihak

Ketika ditanya apakah permainan tim sudah sesuai dengan strategi yang diharapkan, Defiand mengakui bahwa para pemain telah berusaha menjalankan rencana yang dipersiapkan.

Hasil akhir memang belum membawa Indonesia ke podium. Indonesia mengakhiri pertandingan dengan 95 poin. Thailand menjadi peraih emas dengan 128 poin, disusul China dengan 114 poin dan Pakistan dengan 100 poin.

Defiand pun menilai hasil di lapangan menjadi bagian dari kompetisi yang harus diterima tim.

“Kami sudah berusaha maksimal. Tetapi kenyataan di lapangan seperti itu. Mungkin memang belum rezekinya.”

Pernyataan tersebut juga mencerminkan evaluasi Defiand bahwa perjuangan tim tidak dapat hanya dilihat berdasarkan posisi akhir klasemen.

Pengalaman Asian Games Jadi Bahan Evaluasi

Kegagalan meraih medali di Asian Games 2026 memberikan sejumlah catatan penting bagi Tim PUBG Mobile Indonesia.

Dari sisi persiapan, padatnya kalender kompetisi menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhitungkan. Sementara dari sisi pertandingan, keterbatasan fasilitas komunikasi dan perangkat di backstage membuat tim harus menyesuaikan cara melakukan analisis serta menyampaikan evaluasi.

Bagi Defiand, pengalaman tersebut justru dapat menjadi pembelajaran agar persiapan menghadapi kompetisi berikutnya bisa dibuat lebih matang, termasuk menyiapkan metode evaluasi yang sesuai dengan kondisi pertandingan.

Indonesia memang harus meninggalkan Asian Games 2026 tanpa medali dari nomor PUBG Mobile. Namun, perjalanan Rosemary dan kawan-kawan sekaligus memberikan pengalaman baru bagi tim dalam menghadapi format pertandingan dan regulasi berbeda di panggung internasional.

Dengan catatan tersebut, evaluasi setelah Asian Games akan menjadi bagian penting bagi Tim PUBG Mobile Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi berikutnya.

Baca Artikel Asli