Korea Selatan kembali menjadi juara League of Legends di Asian Games 2026. Bertanding di Aichi Sky Expo, Jepang, pada Jumat (2/10/2026), Korea Selatan menundukkan Chinese Taipei dengan skor telak 3-0 sekaligus mempertahankan medali emas yang mereka raih pada edisi sebelumnya.
Kemenangan tersebut terasa semakin menarik karena Lee “Faker” Sang-hyeok tidak turun di partai final dan hanya berada di bangku cadangan. Meski tanpa salah satu nama terbesar dalam sejarah League of Legends, Korea Selatan tetap menunjukkan kedalaman roster dan mampu menyelesaikan turnamen tanpa kehilangan satu seri pun.

Chinese Taipei sebenarnya sempat memberikan perlawanan kuat pada dua game pertama. Bahkan, mereka sempat membangun keunggulan lebih dari 5.000 gold pada game kedua. Namun, Korea Selatan mampu membalikkan situasi di kedua pertandingan tersebut dan mengubahnya menjadi keunggulan 2-0.
Pada game ketiga, Korea Selatan tampil jauh lebih dominan. Mereka mengendalikan pertandingan dan mengakhiri perlawanan Chinese Taipei dalam waktu kurang dari 30 menit untuk memastikan kemenangan sempurna 3-0.
Korea Selatan Pertahankan Gelar Asian Games
Emas di Aichi-Nagoya menjadi gelar Asian Games kedua secara beruntun bagi Korea Selatan di cabang League of Legends.
Sebelumnya, Korea Selatan juga menjadi juara pada Asian Games Hangzhou 2022 yang pelaksanaannya berlangsung pada 2023. Pada edisi tersebut, esports resmi dipertandingkan sebagai cabang perebutan medali setelah sebelumnya hadir sebagai pertandingan demonstrasi di Asian Games Jakarta-Palembang 2018.
Perjalanan Korea Selatan di Aichi-Nagoya juga berlangsung tanpa kekalahan. Mereka menyapu bersih fase grup dengan rekor 3-0, kemudian mengalahkan Arab Saudi 2-0 di semifinal sebelum kembali menang 3-0 atas Chinese Taipei di final.
Catatan tersebut memperlihatkan konsistensi Korea Selatan di panggung Asian Games, sekaligus menunjukkan bahwa mereka memiliki lebih dari satu opsi pemain untuk mengisi posisi penting.
Faker Tidak Tampil di Final
Salah satu perhatian terbesar sepanjang turnamen adalah keputusan untuk melakukan rotasi di posisi mid lane.
Korea Selatan membawa dua pemain untuk posisi tersebut, yakni Faker dan Zeka. Pada fase grup, Zeka memainkan dua pertandingan, sedangkan Faker turun satu kali ketika menghadapi India.
Faker sebelumnya juga sempat tampil ketika Korea Selatan menghadapi India dan berkontribusi dalam kemenangan tim. Namun, pada pertandingan melawan Chinese Taipei di laga pembuka grup maupun pertandingan berikutnya, posisi mid lane diisi oleh Zeka.
Pada final, Faker kembali tidak dimainkan dan tetap berada di bangku cadangan. Meski demikian, Korea Selatan tetap mampu tampil solid dan menyelesaikan seri dengan kemenangan 3-0.
Rotasi tersebut sebelumnya juga telah dibahas oleh pelatih Korea Selatan, Kang Dong-hoon, yang menyatakan bahwa tim siap meraih kemenangan dengan pemain mana pun dari dua opsi tersebut.
Chinese Taipei Sempat Membuat Korea Selatan Tertekan
Hasil akhir 3-0 memang terlihat dominan, tetapi jalannya pertandingan tidak sepenuhnya mudah bagi Korea Selatan.
Chinese Taipei memberikan tekanan serius terutama pada dua game pertama. Pada game kedua, mereka bahkan sempat mendapatkan keunggulan ekonomi lebih dari 5.000 gold.
Namun, keunggulan tersebut tidak mampu dipertahankan hingga akhir pertandingan. Korea Selatan menemukan celah untuk membalikkan momentum dan kembali unggul dalam seri. Setelah memenangkan dua game awal, Korea Selatan memasuki pertandingan ketiga dengan posisi yang jauh lebih nyaman.
Pada game ketiga, situasinya berubah. Korea Selatan mendominasi permainan dan mengunci kemenangan kurang dari 30 menit, sekaligus menutup peluang Chinese Taipei untuk memaksakan game keempat.
Final Kembali Mempertemukan Dua Rival Lama
Pertemuan Korea Selatan dan Chinese Taipei di final juga mengulang salah satu duel penting dari edisi sebelumnya.
Chinese Taipei berhasil kembali mencapai final setelah pada semifinal mengalahkan Vietnam 2-0. Sementara itu, Korea Selatan terlebih dahulu mengalahkan Arab Saudi 2-0 untuk mendapatkan tempat di partai perebutan emas.
Menariknya, kedua tim juga sudah bertemu pada fase grup. Korea Selatan memenangkan pertandingan tersebut dan kemudian melanjutkan perjalanan tanpa kekalahan sampai final.
Chinese Taipei mampu kembali mencapai partai puncak meski sebelumnya sudah kehilangan pertandingan melawan Korea Selatan. Namun, mereka tidak berhasil membalikkan hasil tersebut ketika kedua tim kembali bertemu untuk memperebutkan medali emas.
Hard Fearless Draft Membuat Strategi Semakin Kompleks
Turnamen League of Legends Asian Games 2026 juga menggunakan aturan Hard Fearless Draft.
Dalam format tersebut, setiap champion yang sudah digunakan dalam satu seri tidak dapat dipilih kembali oleh kedua tim pada game berikutnya dalam seri yang sama. Aturan ini membuat tim harus menyiapkan champion pool yang lebih luas dan memikirkan strategi secara lebih panjang dibandingkan format draft biasa.
Kompetisi diikuti oleh delapan tim yang dibagi ke dalam dua grup. Fase grup menggunakan sistem single round-robin dengan pertandingan best-of-one, sementara dua tim teratas dari masing-masing grup berhak melaju ke fase knockout.
Semifinal dimainkan dalam format best-of-three, sedangkan final menggunakan best-of-five.
Format tersebut membuat fleksibilitas roster dan kemampuan beradaptasi menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Korea Selatan menuju gelar juara.
Korea Selatan Tambah Koleksi Emas Esports
Setelah final League of Legends selesai, Korea Selatan menambah satu emas dari cabang esports pada Asian Games 2026.
Sebelumnya, Korea Selatan telah meraih emas pada nomor Fighting Games, setelah mengalahkan Jepang di final. Dengan tambahan emas League of Legends, Korea Selatan mengakhiri kompetisi esports Aichi-Nagoya dengan dua medali emas.
Sementara itu, China mengoleksi tiga emas esports, sedangkan Jepang meraih dua emas. China juga menjadi negara dengan jumlah emas esports terbanyak pada edisi ini.
Indonesia sendiri mengakhiri kompetisi esports Asian Games 2026 dengan dua medali perak, salah satunya berasal dari PUBG Mobile dan satu lainnya dari Pokémon Unite.
Korea Selatan Tunjukkan Kedalaman Roster
Kemenangan 3-0 atas Chinese Taipei sekaligus memberikan gambaran mengenai kedalaman roster Korea Selatan.
Faker, yang sudah menjadi bagian penting dari perjalanan esports Korea Selatan selama bertahun-tahun, tidak harus turun pada final untuk membawa tim meraih emas. Zeka mampu mengisi posisi tersebut dan membantu Korea Selatan melewati fase-fase penting turnamen.
Bagi Korea Selatan, hasil tersebut mempertegas bahwa kekuatan mereka di Asian Games 2026 bukan hanya bertumpu pada satu pemain, tetapi juga pada kemampuan seluruh roster menjalankan sistem permainan yang telah disiapkan.
Dengan gelar kedua secara beruntun, Korea Selatan kembali menempatkan nama mereka di posisi teratas League of Legends Asian Games. Sementara bagi Chinese Taipei, perjalanan hingga final tetap menjadi pencapaian penting setelah berhasil melewati fase knockout dan kembali menantang sang juara bertahan.