Menemukan talenta baru di scene Free Fire Indonesia ternyata tidak sesederhana kelihatannya. Menurut Coach Adi "Adyy" Gustiawan, pelatih RRQ Kazu, akar masalahnya bukan soal kurangnya bakat, melainkan kurangnya panggung untuk menguji bakat itu sendiri.
Kondisi ini membuat proses scouting menjadi semakin sulit. Tim profesional tidak memiliki cukup banyak data untuk mengukur konsistensi, perkembangan, maupun potensi seorang pemain sebelum memutuskan untuk merekrutnya.
Untuk Garena Indonesia, mungkin perbanyak lagi jam terbang pemain Indonesia. Jujur kita kesulitan melakukan scouting kalau kesempatan untuk menguji pemain minim,
ujar Coach Adyy saat ditanya soal regenerasi pemain muda dan masukannya untuk Garena Indonesia dalam sesi interview media.
Dulu Ada Divisi 1 dan 2, Sekarang Scouting Makin Sulit
Coach Adyy membandingkan situasi saat ini dengan era ketika Divisi 1 dan Divisi 2 masih berjalan di scene Free Fire Indonesia. Menurutnya, keberadaan dua jenjang kompetisi itu membuat proses scouting jauh lebih terukur.
Dulu waktu ada Divisi 1 dan Divisi 2, scouting lebih terukur karena jam terbang dan pola latihan mereka hampir sama dengan tim pro. Kita bisa scout lebih dalam,
katanya. "Sekarang di luar turnamen utama kita harus benar-benar nyebur jauh untuk mencari pemain yang punya potensi."
Untuk beberapa season terakhir, ia mengaku indikator utama tim dalam menilai pemain hanya bersumber dari turnamen resmi Spring dan Fall — jauh lebih sempit dibanding ketika masih ada jenjang divisi yang polanya menyerupai tim profesional.

Jam Terbang Terbatas, Talenta Baru Sulit Terbaca
Minimnya kesempatan bertanding ini, kata Coach Adyy, berdampak langsung pada kualitas data yang dimiliki tim untuk menilai seorang pemain. Kesempatan di FFWS sendiri disebutnya sangat terbatas, sehingga banyak pemain yang gagal sebelum tim benar-benar punya cukup data untuk menyimpulkan apakah performa mereka konsisten atau sekadar sedang dapat momentum.
"Kurangnya jam main juga bikin kita kesulitan nge-scout dan nge-spot pemain potensial karena vision kita ke mereka minim," lanjutnya
Bahaya "Nganggur" Usai Turnamen Berakhir
Salah satu kekhawatiran terbesar Coach Adyy adalah nasib pemain yang gagal lolos dari sebuah turnamen. Tanpa kompetisi lanjutan, mereka berisiko kehilangan visibility di mata tim-tim yang sedang mencari talenta baru.
"Jangan sampai setelah satu event selesai, pemain yang belum lolos akhirnya cuma nganggur menunggu season berikutnya. Di fase itu kita kehilangan visibility," tegasnya.
Alternatif yang Ada Belum Sepenuhnya Menjawab Kebutuhan
Saat ini, tim seperti RRQ Kazu mengaku mengandalkan Fast Tournament atau kompetisi Tier 3 dan Tier 4 sebagai alternatif untuk memantau pemain di luar turnamen utama. Namun, Coach Adyy menegaskan bahwa parameter penilaian di ajang-ajang tersebut tentu berbeda dengan level kompetisi yang sebenarnya ingin diukur.
Harapannya sederhana: beri lebih banyak panggung kepada pemain komunitas untuk bereksperimen dan berkembang, sebelum mereka keburu kehilangan momentum — atau kehilangan kesempatan sama sekali.