Komisi Eropa bersama Consumer Protection Cooperation Network (CPC Network) memperketat pengawasan terhadap praktik microtransaction dalam industri video game. Sebanyak 11 game kini masuk dalam tindakan terkoordinasi yang berkaitan dengan penggunaan mata uang virtual dan praktik komersial dalam game, termasuk Call of Duty Mobile, Minecraft, Valorant, hingga Clash of Clans.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari Key Principles on In-Game Virtual Currencies yang diterbitkan CPC Network pada Maret 2025. Dokumen tersebut memberikan prinsip bagi pelaku industri game agar penggunaan mata uang virtual tetap sesuai dengan hukum perlindungan konsumen Uni Eropa, terutama dalam hal transparansi harga, informasi sebelum pembelian, serta perlindungan terhadap konsumen yang rentan seperti anak-anak.

Namun, ada perbedaan penting dalam status masing-masing game. Sembilan game menjadi sasaran tindakan terkoordinasi baru yang diumumkan pada 30 September 2026, sedangkan Call of Duty Mobile dan Diablo Immortal sudah berada dalam proses tindakan terkoordinasi terpisah sejak awal 2026.
11 Game yang Masuk Pengawasan Uni Eropa
Dalam tindakan terbaru, CPC Network menyasar sembilan perusahaan game yang terkait dengan sembilan judul berikut:
- Candy Crush Saga
- Clash of Clans
- Forge of Empires
- For Honor
- Gardenscapes
- Hunt: Showdown 1896
- Mech Arena
- Minecraft
- Valorant
Kesembilan perusahaan yang terlibat antara lain Crytek, InnoGames, King.com, Mojang, Plarium Europe, PLR Worldwide Sales, Riot Games, Supercell, dan Ubisoft EMEA. CPC Network menyatakan mereka diduga menggunakan praktik komersial yang berpotensi bertentangan dengan hukum perlindungan konsumen Uni Eropa dalam kaitannya dengan mata uang virtual di dalam game.
Sementara itu, Call of Duty Mobile dan Diablo Immortal menjadi bagian dari tindakan terhadap Microsoft Corporation dan Activision Blizzard yang telah dimulai lebih awal pada 2026. Kasus tersebut tidak hanya mencakup penjualan mata uang virtual, tetapi juga sejumlah isu lain yang berkaitan dengan perlindungan konsumen.
Dengan demikian, totalnya terdapat 11 game yang disebut dalam rangkaian tindakan terkait perlindungan konsumen, meski tidak semuanya berada dalam proses pemeriksaan yang sama.
Apa yang Dipermasalahkan dari Microtransaction?
Salah satu perhatian utama Uni Eropa adalah bagaimana mata uang virtual dapat membuat konsumen kehilangan gambaran mengenai harga sebenarnya dari sebuah item digital.
Dalam Key Principles on In-Game Virtual Currencies, CPC Network menjelaskan bahwa mata uang virtual yang dibeli menggunakan uang sungguhan dan kemudian digunakan untuk memperoleh konten atau layanan digital di dalam game tetap berkaitan dengan kewajiban perlindungan konsumen. Transaksi semacam itu pada dasarnya harus mendapatkan perlakuan perlindungan konsumen seperti pembelian menggunakan mata uang nyata.
Karena itu, prinsip yang diterbitkan CPC Network menekankan pentingnya informasi harga yang jelas dan transparan, termasuk informasi yang diberikan sebelum konsumen melakukan transaksi. Praktik yang menyembunyikan biaya sebenarnya dari sebuah item digital atau membuat konsumen harus membeli mata uang virtual dalam jumlah tertentu juga menjadi perhatian.
Masalahnya tidak hanya berkaitan dengan harga satu item. Sistem mata uang virtual dapat membuat pemain harus terlebih dahulu membeli paket mata uang, kemudian menggunakan saldo tersebut untuk membeli item dengan harga dalam mata uang game. Menurut prinsip CPC Network, model seperti ini perlu dirancang secara transparan agar konsumen dapat memahami nilai transaksi yang sebenarnya.
Uni Eropa Minta Harga dan Informasi Pembelian Lebih Transparan
Salah satu prinsip utama yang ditekankan CPC Network adalah clear and transparent pricing.
Dalam praktiknya, pemain harus dapat memahami berapa harga sebenarnya yang harus mereka bayarkan untuk mendapatkan mata uang virtual maupun konten digital yang ditawarkan.
CPC Network juga menekankan pentingnya memberikan informasi sebelum kontrak atau pembelian dilakukan, sehingga konsumen tidak baru mengetahui detail transaksi setelah mengeluarkan uang.
Selain itu, pelaku industri diminta menghindari mekanisme yang membuat konsumen harus membeli mata uang virtual lebih banyak dari jumlah yang sebenarnya dibutuhkan. Prinsip ini secara khusus ditujukan untuk mengurangi praktik yang dapat mengaburkan biaya sebenarnya dari sebuah transaksi.
Hak Konsumen untuk Membatalkan Pembelian Juga Disoroti
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah hak konsumen untuk melakukan withdrawal atau pembatalan transaksi, sesuai ketentuan yang berlaku dalam hukum perlindungan konsumen Uni Eropa.
CPC Network memasukkan penghormatan terhadap hak tersebut sebagai salah satu prinsip penting dalam transaksi yang melibatkan mata uang virtual dan konten digital.
Prinsip ini menunjukkan bahwa pengawasan tidak hanya diarahkan pada cara game menjual item, tetapi juga pada hubungan antara konsumen dan penyedia layanan setelah transaksi dilakukan.
Anak-anak Menjadi Salah Satu Fokus Utama
Perlindungan terhadap konsumen yang rentan, terutama anak-anak, menjadi salah satu tema utama dalam pendekatan baru Uni Eropa terhadap monetisasi game.
CPC Network menyatakan bahwa beberapa model bisnis dan praktik desain dalam video game dapat memberikan dampak yang lebih besar kepada konsumen yang rentan. Karena itu, pelaku industri diminta mempertimbangkan bagaimana sistem monetisasi diterapkan terhadap kelompok tersebut.
Perhatian terhadap anak-anak sebenarnya bukan hal baru bagi regulator Eropa. Dalam tindakan sebelumnya terhadap Star Stable Online, misalnya, CPC Network menyoroti praktik seperti ajakan langsung kepada anak-anak untuk membeli mata uang atau item dalam game, tekanan melalui penawaran berbatas waktu, serta kurangnya informasi yang mudah dipahami mengenai mata uang virtual.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa masalah yang diperhatikan regulator tidak semata-mata keberadaan microtransaction, melainkan bagaimana mekanisme tersebut dirancang dan dipasarkan kepada konsumen.
Call of Duty Mobile dan Diablo Immortal Hadapi Pemeriksaan Lebih Luas
Kasus Call of Duty Mobile dan Diablo Immortal memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan sekadar mata uang virtual.
Dalam tindakan yang dimulai pada awal 2026, CPC Network menyatakan bahwa mereka juga memeriksa pengumpulan data konsumen, desain yang berpotensi membuat ketergantungan, pengaturan parental control yang telah dipilih sebelumnya, pemasaran langsung kepada anak-anak, informasi sebelum kontrak, serta pemblokiran akun game secara sepihak.
Dialog antara CPC Network dan perusahaan terkait masih berlangsung. Komisi Eropa menyatakan bahwa apabila persoalan yang ditemukan tetap tidak diselesaikan, otoritas perlindungan konsumen di tingkat nasional dapat mempertimbangkan langkah penegakan hukum.
Artinya, status tindakan terhadap Call of Duty Mobile maupun game lain tersebut perlu dibaca sebagai proses pengawasan dan penegakan yang sedang berjalan, bukan sebagai keputusan final bahwa semua game yang disebut telah terbukti melanggar hukum.
Key Principles Bukan Larangan Baru untuk Semua Microtransaction
Hal penting lainnya adalah posisi Key Principles on In-Game Virtual Currencies itu sendiri.
Dokumen yang diterbitkan pada 21 Maret 2025 bukanlah daftar larangan baru yang secara otomatis membuat semua bentuk microtransaction menjadi ilegal. CPC Network menjelaskan bahwa prinsip tersebut merupakan panduan yang bersifat non-exhaustive untuk membantu pelaku industri menjalankan praktik mereka sesuai dengan hukum perlindungan konsumen Uni Eropa.
Prinsip tersebut mencakup transparansi harga, informasi pra-pembelian, pencegahan praktik yang menyembunyikan biaya, larangan memaksa konsumen membeli mata uang virtual, hak withdrawal, serta perlindungan terhadap kelompok konsumen yang rentan.
Setelah prinsip tersebut diterbitkan, CPC Network dan Komisi Eropa meminta industri game mengambil langkah konkret untuk menyesuaikan praktik mereka. Pada September 2026, Komisi Eropa menyatakan bahwa dialog dengan industri belum menghasilkan solusi yang dinilai memadai sehingga sejumlah persoalan kini ditangani melalui tindakan penegakan terkoordinasi.
Industri Game Diminta Meninjau Sistem Monetisasi
Dengan dimulainya tindakan terbaru, regulator Eropa juga mengirimkan sinyal kepada perusahaan game lain yang menerapkan sistem microtransaction.
CPC Network meminta pelaku industri meninjau kembali praktik mereka sebelum masalah serupa berkembang menjadi tindakan penegakan. Fokus utamanya adalah memastikan pemain memahami berapa uang yang sebenarnya mereka keluarkan, apa yang mereka beli, serta hak yang mereka miliki sebagai konsumen.
Bagi industri game, perkembangan ini dapat menjadi dorongan untuk mengevaluasi kembali desain toko dalam game, mata uang virtual, paket pembelian, promosi berbatas waktu, hingga mekanisme monetisasi yang menyasar pemain muda.
Untuk saat ini, proses terhadap perusahaan-perusahaan yang disebut masih berjalan. Langkah selanjutnya akan bergantung pada hasil dialog dan respons masing-masing perusahaan terhadap persoalan yang disampaikan oleh otoritas perlindungan konsumen Eropa.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa microtransaction kini semakin menjadi bagian dari perhatian regulasi di industri game Eropa, terutama ketika mekanismenya dinilai berpotensi mengaburkan biaya atau memengaruhi konsumen yang rentan.