Esports World Cup (EWC) 2026 kembali diterpa kontroversi. Setelah sebelumnya sejumlah pelatih VALORANT menjadi korban pencurian perangkat pada hari-hari awal turnamen, kini cabang Dota 2 menghadapi persoalan yang jauh lebih serius.
Tim asal Peru, PlayTime (PTime), resmi didiskualifikasi dari kompetisi Dota 2 EWC 2026 menjelang pertandingan Survival Stage melawan Vici Gaming. Keputusan tersebut diambil setelah penyelenggara menemukan dugaan pelanggaran integritas yang kemudian diteruskan kepada Esports Integrity Commission (ESIC) untuk penyelidikan lebih lanjut.
— EWC Extra (@EWC_Extra) July 15, 2026
Pertandingan Ditunda Sebelum PTime Resmi Didiskualifikasi
Laga antara PTime dan Vici Gaming yang semula dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 14 Juli 2026 pukul 13.00 CEST mendadak ditunda tanpa penjelasan rinci.
Beberapa jam kemudian, pihak Esports World Cup Foundation merilis pernyataan resmi yang menyebut penundaan dilakukan sebagai langkah pencegahan setelah ditemukan indikasi masalah integritas.
Awalnya penyelenggara belum mengungkap detail kasus tersebut. Namun, sehari berselang, keputusan final diumumkan: PTime dikeluarkan dari turnamen Dota 2 EWC 2026.
ESIC Jatuhkan Penangguhan Sementara kepada DarkMago dan Vintage
Dalam pernyataan resminya, ESIC mengonfirmasi bahwa dua individu yang terkait dengan PTime dikenai suspensi sementara, yakni:
- Oswaldo "DarkMago" Herrera (midlaner)
- Juan "Vintage" Angulo (pelatih)
Keduanya sedang menjalani investigasi atas dugaan pelanggaran terhadap:
- ESIC Anti-Corruption Code
- ESIC Player Code of Conduct
Selama proses investigasi berlangsung, DarkMago dan Vintage dilarang berpartisipasi, baik secara langsung maupun tidak langsung, di seluruh turnamen EWC 2026 maupun kompetisi yang berada di bawah anggota ESIC.
Meski demikian, ESIC menegaskan bahwa belum ada keputusan akhir mengenai kesalahan kedua individu tersebut. Status yang diberikan saat ini masih berupa suspensi sementara hingga penyelidikan selesai.
Dugaan Match-Fixing Bayangi Turnamen Dota 2 Terbesar Tahun Ini
ESIC belum mengungkap secara spesifik dugaan pelanggaran yang sedang diselidiki.
Namun, sejumlah laporan yang beredar di komunitas Dota 2 mengaitkan kasus ini dengan dugaan match-fixing pada pertandingan PTime melawan L1GA Team, meski hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari penyelenggara maupun ESIC mengenai detail tersebut.
Kasus ini menjadi sorotan karena terjadi di salah satu turnamen Dota 2 terbesar musim ini, meskipun EWC bukan bagian dari sirkuit ESL Pro Tour.
PTime Tegaskan Dukung Investigasi
Melalui divisi esports mereka, PT Sports Management, organisasi PTime merilis pernyataan resmi.
Manajemen menegaskan bahwa mereka memiliki kebijakan tanpa toleransi terhadap segala bentuk pelanggaran integritas kompetitif. Mereka juga menyebut tidak mengetahui adanya dugaan tersebut sebelum proses investigasi dimulai.
PTime mengaku:
- bekerja sama penuh dengan penyelenggara EWC;
- melakukan investigasi internal;
- serta menangguhkan individu yang terlibat hingga proses penyelidikan selesai.
Pihak organisasi juga meminta maaf kepada penyelenggara, penggemar, dan seluruh komunitas atas situasi yang terjadi.
Mantan Pelatih OG: "Mereka Menghancurkan Esports"
Kasus ini turut memancing reaksi keras dari mantan pemain sekaligus pelatih OG Esports, Mikhail "Misha" Agatov.
Melalui kanal Telegram pribadinya, Misha membandingkan kasus tersebut dengan skandal Tommy "Taiga" Le, pemain profesional yang sebelumnya dijatuhi hukuman larangan seumur hidup akibat keterlibatan dalam praktik match-fixing.
Menurut Misha, jika tuduhan yang beredar benar, tindakan tersebut tidak hanya merusak integritas kompetisi, tetapi juga berkaitan dengan jaringan perjudian yang mempertaruhkan uang dalam jumlah besar.
Meski demikian, pernyataan tersebut merupakan opini pribadi Misha dan belum menjadi bagian dari kesimpulan resmi investigasi ESIC.
Investigasi Masih Berlangsung
Hingga saat ini, ESIC belum mengumumkan kapan hasil investigasi akan dipublikasikan.
Yang sudah dipastikan adalah PTime resmi tersingkir dari Esports World Cup 2026, sementara DarkMago dan Vintage masih menjalani suspensi sementara sampai proses penyelidikan selesai.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa integritas kompetitif tetap menjadi aspek krusial dalam industri esports. Apabila dugaan tersebut terbukti, sanksi yang dijatuhkan berpotensi jauh lebih berat dibanding sekadar diskualifikasi dari turnamen.

